Buku ‘Mencari Mutiara di Dasar Hati’ merupakan kumpulan artikel dari rubrik 'Ruhaniyat' majalah Tarbawi yang sangat istimewa. Ketika artikel dari rubrik tersebut dihimpun menjadi 'sebuah buku' hasilnya, sungguh luar biasa! Betapa kita dapat berkaca dengan isi demi isi dari buku ini.
Sungguh menyentuh bagi kita yang memang benar-benar masih peduli dengan kemurnian hati. Dipadu dengan sumber dari Alquran serta hadits dari Rasulullah SAW, sirah Nabi-Nabi ataupun para sahabat Radiyallahu Anhu. Selamat Membaca.
“Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya” (Ar Rafi’I, Wahyul Qalam, 1/50)
Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah diantara kita yang tersayat atau terluka? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tidak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.
Kita tak pernah berhenti karena menderita oleh keadaan seperti itu. Di jalan ini, “Rasa sakit telah menjadi kenikmatan, pengorbanan menjadi indah dan jiwa menjadi tidak berharga”. Kata itu yang pernah diucapkan seorang pejuang Palestina terkenal yang telah gugur, Mahmud Abu Hanud. Tujuan yang kita tetapkan dalam kebersamaan terbukti telah menjadikan kita lebih kuat, tabah, kokoh menghadapi rintangan apapun juga.
Dalam perjalanan dakwah yang panjang, kita memerlukan satu bekal yaitu sikap lapang dada, nafas panjang dan mudah memaafkan. Seperti orang-orang shalih terdahulu yang tak peduli dengan suasana getir yang mereka terima dalam menjalankan ketaatan. Seperti para pejuang yang tak pernah tersengal-sengal oleh kejaran musuh-musuhnya di Jalan Allah. Seperti Rasulullah SAW yang tak pernah merasa tertekan dengan penghinaan atau cacian orang-orang sekirarnya, dalam menjalani misi kenabiannya.
Sungguh luar biasa sikap orang-orang shalih dalam memandang dan mengukur penghinaan orang lain terhadap dirinya. Ibrahim An Nakh’I, suatu hari berjalan bersama sahabatnya, seorang buta. Setelah beberapa lama menyusuri jalan, orang buta itu mengatakan, “Ya Ibrahim, orang-orang yang melihat kita mengatakan, “itu orang buta dan pincang”. Ibrahim dengan tenang lalu mengatakan, “Kenapa engkau begitu terbebani memikirkannya? Jika mereka berdosa karena menghina kita sedangkan kita mendapat pahala, lalu kenapa?
Fudhail bin Iyadh, tokoh ulama yang terkenal ketaqwaannya di zaman generasi Tabi’in bercerita bahwa suatu ketika saat berada di Masjidil Haram, ia didatangi seseorang yang menangis. Fudhail bertanya, “kenapa engkau menangis?” Orang itu menjawab, “Aku kehilangan beberapa dinar dan aku tahu ternyata uangku dicuri”.
Fudhail mengatakan “Apakah engkau menangis hanya karena dinar? Sungguh mengejutkan jawaban orang itu. Ia menjawab, ”Tidak, aku menangis karena aku tahu bahwa kelak aku akan berada di hadapan Allah, dengan pencuri itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku menangis…”
Mereka yang dirahmati Allah, menyikapi berbagai persoalan dengan lapang dada. Mungkin saja mereka berduka, bersedih, kecewa atau barangkali tersulut sedikit kemarahannya. Tetapi mereka berhasil menguasai hatinya kembali. Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh, ketenangan mereka sama sekali tidak terusik. Betapa indahnya.
Kisah-kisah itu harusnya membuat kita mengerti bahwa jika kita tidak lapang dada dan tidak mudah bersabar, kita pasti akan menjadi orang yang paling menderita didunia ini sebab penderitaan terbesar adalah jiwa yang cepat goyah dan bimbang saat menghadapi sesuatu yang sebenarnya remeh.
Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang demikian agung, terbentur oleh keadaan hidup yang sesungguhnya sepele. Persoalan remeh, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan sempitnya dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang bergemuruh duka cita hingga istirahat terganggu, pikiran tidak tentu arah.
JIka itu yang terjadi, takkan ada amal-amal besar yang bisa dilakukan. Lantaran amal-amal besar hanya lahir dari jiwa yang tenang, hati yang lapang, penuh ridha, pikiran yang jernih. Itu sebabnya Syaikh Musthafa Masyhur mensyaratkan sifat ‘nafasun thawiil’ atau nafas panjang yang harus ada dalam diri pejuang Islam. Baginya, jalan perjuangan yang terjal dan panjang tak mungkin bisa dilewati oleh orang-orang yang ber’nafas pendek’ alias mudah goyah dan tidak sabar.
Apa rahasia lapang dada yang dimiliki para salafushalih itu? Kenapa mereka tetap memiliki bashirah yang terang dalam menghadapi persoalan hidup? Salahsatunya karena wawasan hidup mereka yang luas. Orang yang sempit wawasan adalah orang yang takut dengan perkara-perkara kecil, sangat takut dengan peristiwa remeh dan mudah marah dengan kata-kata yang tidak berkenan di hatinya.
Seseorang bahkan bisa sampai terbakar puncak kemarahannya disebabkan peristiwa yang sebenarnya bisa dilewati dengan memejamkan mata. Bahkan bisa dilewati dengan senyum bila dibarengi dengan sedikit berpikir lapang dada.
Kita bisa seperti mereka. Jika kita tahu dan sadar ada sasaran besar dan tujuan maha agung yang akan kita capai bersama di ujung jalan ini. Ada yang maha penting dari peristiwa-peristiwa apapun dijalan ini. Ada yang maha mulia dari berbagai kejadian-kejadian apapun di jalan ini.
Diringkas oleh: Pramana Asmadiredja
Dari buku: “MENCARI MUTIARA DI DASAR HATI” Catatan Perenungan Ruhani Seri I, karya: Muhammad Nursani (Tarbawi Press)
Kabar PKS Pesanggrahan
Kabar DPRa
BERITA TERBARU
11.2.12
Mencari Mutiara di Dasar Hati
Sabtu, 11 Februari 2012
10.2.12
Jadikan Keluarga Harmonis dengan Komunikasi Efektif
Jumat, 10 Februari 2012
Oleh Pramana Asmadiredja
Salah satu pilar penting dalam bangunan rumah tangga, adalah dengan komunikasi efektif antara pasangan suami dan istri (Pasutri). Cobalah untuk membangun komunikasi dua arah yang efektif, santun, dan nyaman bersama pasangan.
Untuk itu kita perlu mengenal dengan benar-benar pribadi dan karakter dari pasangan kita. Yang baru menikah, tentulah masih dalam masa-masa penyesuaian dan masih banyak lagi hal-hal yang belum dimengerti oleh pasangan, sehingga kita bisa menyampaikan segala permasalahan dengan sebaik-baiknya, penuh santun dan tidak melukai perasaan pasangan.
Begitu pula dengan mereka yang sudah memasuki pernikahan 5, 10, 15, 20 tahun atau bahkan puluhan tahun, tetap harus benar-benar mengerti pribadi dan karakter dari masing-masing pasangan. Dalam menyampaikan segala sesuatu permasalahan pada pasangan, cobalah untuk mengerti saat waktu yang tepat dalam menyampaikan.
Usahakan menyampaikan dalam suasana santai, jangan terlalu banyak berkata-kata saat pasangan kita dalam kondisi kelelahan karena mencari nafkah seharian, atau bekerja seharian, belum makan atau saat emosinya tidak stabil, dan lainnya.
Adanya komunikasi yang efektif adalah salah satu hal yang bisa menjadikan pasangan suami isteri menjadi harmonis dan bahkan keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Insya Allah dengan komunikasi yang baik, dan penuh santun, segala permasalahan yang ada bisa teruraikan secara bersama.
Karena dengan pernikahan akan menjadikan diri kita, pasangan suami istri (pasutri) untuk saling mengingatkan pasangan agar selalu dalam jalan kebaikan. Kuncinya, kesadaran dan kemauan yang kuat dari dalam diri, baik pada suami dan istri, untuk mengupayakan komunikasi, intimasi dan pada akhirnya memperkuat komitmen sehingga pernikahan langgeng dan harmonis bertahun-tahun lamanya.
Karena itu, komunikasi bagi pasangan suami isteri sangat penting untuk mewujudkan keharmonisan di dalam keluarga, sehingga tidak sampai terjadi perceraian maupun kekerasan di dalam rumah tangga. Seringkali perpecahan di keluarga terjadi karena tidak efektifnya komunikasi yang terbina dan terbangun dari pasutri.
Dan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah warahmah dibutuhkan komunikasi yang efektif dan baik antara pasutri, karena mereka diumpamakan seperti nahkoda perahu keluarga yang mengarungi bahtera lautan kehidupan. Mereka berdua yang menjadi motor penggerak kehidupan untuk putra-putrinya serta mengerahkan mereka menjadi manusia yang berhasil serta berguna bagi masyarakat, Negara dan agamanya.
Komunikasi juga sangat penting untuk menjaga keharmonisan cinta keduanya, karena kita bukanlah makhluk telepatis. Oleh karena itu, cinta juga harus diungkapkan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga. Jadikan prioritas kita adalah pasangan sejati kita sendiri.
Sesibuk apapun kita, mesti meluangkan waktu khusus berdua untuk memupuk rasa cinta, kebersamaan, romantisme, yang akhirnya menguatkan komitmen hubungan pasutri. Komunikasi dengan pasangan dapat dilakukan kapan saja.
Saat pagi hari di tengah kesibukan menjalani tugas dan rutinitas di rumah dan saat bersiap bekerja, komunikasi efektif bisa dilakukan untuk menjaga harmonisasi pasutri. Bisa saja hanya sekedar mengatakan “I Love You” kepada pasangan sembari siap berangkat kerja, misalnya.
Bisa juga komunikasi renyah dan mesra yang lebih mengarah kepada romantisme bisa pasangan lakukan di malam hari sebelum tidur. Karena meskipun lelah sepulang bekerja, aktivitas, harus sempatkan waktu berduaan di malam hari. Hangatkan suasana rumah tangga kita dengan senyuman mesra ataupun dengan segelas cokelat panas atau teh, untuk memulai menciptakan keharmonisan keluarga. Wallahua’lam
Salah satu pilar penting dalam bangunan rumah tangga, adalah dengan komunikasi efektif antara pasangan suami dan istri (Pasutri). Cobalah untuk membangun komunikasi dua arah yang efektif, santun, dan nyaman bersama pasangan.
Untuk itu kita perlu mengenal dengan benar-benar pribadi dan karakter dari pasangan kita. Yang baru menikah, tentulah masih dalam masa-masa penyesuaian dan masih banyak lagi hal-hal yang belum dimengerti oleh pasangan, sehingga kita bisa menyampaikan segala permasalahan dengan sebaik-baiknya, penuh santun dan tidak melukai perasaan pasangan.
Begitu pula dengan mereka yang sudah memasuki pernikahan 5, 10, 15, 20 tahun atau bahkan puluhan tahun, tetap harus benar-benar mengerti pribadi dan karakter dari masing-masing pasangan. Dalam menyampaikan segala sesuatu permasalahan pada pasangan, cobalah untuk mengerti saat waktu yang tepat dalam menyampaikan.
Usahakan menyampaikan dalam suasana santai, jangan terlalu banyak berkata-kata saat pasangan kita dalam kondisi kelelahan karena mencari nafkah seharian, atau bekerja seharian, belum makan atau saat emosinya tidak stabil, dan lainnya.
Adanya komunikasi yang efektif adalah salah satu hal yang bisa menjadikan pasangan suami isteri menjadi harmonis dan bahkan keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Insya Allah dengan komunikasi yang baik, dan penuh santun, segala permasalahan yang ada bisa teruraikan secara bersama.
Karena dengan pernikahan akan menjadikan diri kita, pasangan suami istri (pasutri) untuk saling mengingatkan pasangan agar selalu dalam jalan kebaikan. Kuncinya, kesadaran dan kemauan yang kuat dari dalam diri, baik pada suami dan istri, untuk mengupayakan komunikasi, intimasi dan pada akhirnya memperkuat komitmen sehingga pernikahan langgeng dan harmonis bertahun-tahun lamanya.
Karena itu, komunikasi bagi pasangan suami isteri sangat penting untuk mewujudkan keharmonisan di dalam keluarga, sehingga tidak sampai terjadi perceraian maupun kekerasan di dalam rumah tangga. Seringkali perpecahan di keluarga terjadi karena tidak efektifnya komunikasi yang terbina dan terbangun dari pasutri.
Dan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah warahmah dibutuhkan komunikasi yang efektif dan baik antara pasutri, karena mereka diumpamakan seperti nahkoda perahu keluarga yang mengarungi bahtera lautan kehidupan. Mereka berdua yang menjadi motor penggerak kehidupan untuk putra-putrinya serta mengerahkan mereka menjadi manusia yang berhasil serta berguna bagi masyarakat, Negara dan agamanya.
Komunikasi juga sangat penting untuk menjaga keharmonisan cinta keduanya, karena kita bukanlah makhluk telepatis. Oleh karena itu, cinta juga harus diungkapkan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga. Jadikan prioritas kita adalah pasangan sejati kita sendiri.
Sesibuk apapun kita, mesti meluangkan waktu khusus berdua untuk memupuk rasa cinta, kebersamaan, romantisme, yang akhirnya menguatkan komitmen hubungan pasutri. Komunikasi dengan pasangan dapat dilakukan kapan saja.
Saat pagi hari di tengah kesibukan menjalani tugas dan rutinitas di rumah dan saat bersiap bekerja, komunikasi efektif bisa dilakukan untuk menjaga harmonisasi pasutri. Bisa saja hanya sekedar mengatakan “I Love You” kepada pasangan sembari siap berangkat kerja, misalnya.
Bisa juga komunikasi renyah dan mesra yang lebih mengarah kepada romantisme bisa pasangan lakukan di malam hari sebelum tidur. Karena meskipun lelah sepulang bekerja, aktivitas, harus sempatkan waktu berduaan di malam hari. Hangatkan suasana rumah tangga kita dengan senyuman mesra ataupun dengan segelas cokelat panas atau teh, untuk memulai menciptakan keharmonisan keluarga. Wallahua’lam
10.2.12
Wudhu, Identitas Yang Menautkan Dua Rindu
Suatu hari Rasulullah SAW bersabda, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Aku sangat ingin sekiranya aku bisa melihat saudara-saudaraku”. Para sahabat berkata, “Bukankah kami ini saudara-saudara engkau wahai Rasulullah?”
Rasul SAW lalu menjawab,”Kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku tetapi belum pernah melihatku”.
Para sahabat bertanya lagi, “Bagaimana kelak engkau bisa mengenali bahwa mereka yang akan datang belakangan itu adalah umat engkau”.
Rasul SAW menjawab,”Bagaimana menurutmu jika seseorang memiliki kuda yang dahinya putih bercahaya dan berada di tengah-tengah kuda-kuda lain yang semuanya hitam kelam pekat, tidakkah ia tahu yang mana kudanya?”
Para sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”
Rasulullah SAW melanjutkan,”Begitulah mereka saudaraku itu, kelak mereka datang dalam keadaan bercahaya wajahnya dan putih pada daerah bekas-bekas wudhunya”.
Hadits di atas menumpahkan rasa rindu di kalbu. Dari Rasul SAW yang mencintai orang-orang beriman yang belum pernah ia lihat dan merekapun belum melihat wajah beliau yang mulia. Orang-orang itupun rindu untuk melihat Rasulullah SAW, rindu untuk berjumpa dengannya. Rindu untuk berdiri kelak di garis umatnya yang berbaris-baris. Tapi hadist di atas juga menjelaskan soal lain, bahwa kerinduan-kerinduan itu kelak dipertemukan melalui wudhu. Wudhu, adalah identitas yang menautkan dua rindu.
Maka wudhu harus kita hadirkan bersama rasa rindu dan pengharapan itu. Rindu untuk disapa dan dikenali Rasulullah SAW. Serta pengharapan untuk dipanggil di telaganya. Sebab Rasulullah SAW akan menunggu umatnya di telaganya.Dan bahkan beliau berharap jumlah umatnya adalah yang paling banyak diantara umat nabi yang lain di saat itu.
Wudhu tak sekedar membasahi diri dengan air. Wudhu seharusnya terasa membasuh diri dengan Cahaya.
Beliau bersabda, “Jika seorang muslim berwudhu dan membasuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya segala kesalahan yang didatangkan oleh kedua matanya, hingga tetesan air yang terakhir. Jika ia membasuh kedua tangannya, keluarlah dari kedua tangannya segala kesalahan yang didatangkan oleh kedua tangannya. Jika ia membasuh kedua kakinya, keluarlah segala kesalahan yang disebabkan kedua kakinya berjalan kepadanya, sampai ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa”.
Diringkas oleh: Lilis Yunalis, dari Dirosat Tarbawi No.267
Rasul SAW lalu menjawab,”Kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku tetapi belum pernah melihatku”.
Para sahabat bertanya lagi, “Bagaimana kelak engkau bisa mengenali bahwa mereka yang akan datang belakangan itu adalah umat engkau”.
Rasul SAW menjawab,”Bagaimana menurutmu jika seseorang memiliki kuda yang dahinya putih bercahaya dan berada di tengah-tengah kuda-kuda lain yang semuanya hitam kelam pekat, tidakkah ia tahu yang mana kudanya?”
Para sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”
Rasulullah SAW melanjutkan,”Begitulah mereka saudaraku itu, kelak mereka datang dalam keadaan bercahaya wajahnya dan putih pada daerah bekas-bekas wudhunya”.
Hadits di atas menumpahkan rasa rindu di kalbu. Dari Rasul SAW yang mencintai orang-orang beriman yang belum pernah ia lihat dan merekapun belum melihat wajah beliau yang mulia. Orang-orang itupun rindu untuk melihat Rasulullah SAW, rindu untuk berjumpa dengannya. Rindu untuk berdiri kelak di garis umatnya yang berbaris-baris. Tapi hadist di atas juga menjelaskan soal lain, bahwa kerinduan-kerinduan itu kelak dipertemukan melalui wudhu. Wudhu, adalah identitas yang menautkan dua rindu.
Maka wudhu harus kita hadirkan bersama rasa rindu dan pengharapan itu. Rindu untuk disapa dan dikenali Rasulullah SAW. Serta pengharapan untuk dipanggil di telaganya. Sebab Rasulullah SAW akan menunggu umatnya di telaganya.Dan bahkan beliau berharap jumlah umatnya adalah yang paling banyak diantara umat nabi yang lain di saat itu.
Wudhu tak sekedar membasahi diri dengan air. Wudhu seharusnya terasa membasuh diri dengan Cahaya.
Beliau bersabda, “Jika seorang muslim berwudhu dan membasuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya segala kesalahan yang didatangkan oleh kedua matanya, hingga tetesan air yang terakhir. Jika ia membasuh kedua tangannya, keluarlah dari kedua tangannya segala kesalahan yang didatangkan oleh kedua tangannya. Jika ia membasuh kedua kakinya, keluarlah segala kesalahan yang disebabkan kedua kakinya berjalan kepadanya, sampai ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa”.
Diringkas oleh: Lilis Yunalis, dari Dirosat Tarbawi No.267
10.2.12
Hak Anak, Kewajiban Orang Tua
Oleh Afrianti
“Aku belum bisa dikatakan wanita sempurna”. Keluh temanku pada suatu hari. Aku yang mendengarnya menjadi heran, karena menurutku temanku ini adalah wanita yang sempurna, cantik, pintar dan sukses juga dalam karirnya.
“Aku belum bisa jadi ibu yang baik buat anak-anakku...” Jawaban tamanku seolah-olah tau apa yang aku fikirkan. “Anak-anakku semua diasuh sama pembantu. Yaaa...meskipun mereka ada didekat aku, namun keseharian mereka bukan sama aku. Pekerjaan aku sudah membuat aku jauh dari mereka,” cerita temanku pada waktu itu.
Kadang aku heran juga, banyak wanita yang membuang anaknya, bapak yang memperkosa anak wanitanya, orang tua yang membunuh anaknya, padahal anak adalah amanah yang Allah titipkan pada kita yang mesti dijaga.
Dan pada saatnya tiba, kita harus mempertanggung jawabkan semua yang Allah amanahkan pada kita. Tidak seharusnya kita menelantarkan apa yang telah Allah titipkan pada kita. Hak anak atas kita adalah memberikan nama yang baik, yaitu nama yang mengandung doa, mengajarkan Alquran dan menjadi ibu yang baik (Al Hadits).
Hadits diatas sangatlah jelas, orang tua mempunyai kewajiban terhadap anaknya. Kewajiban terhadap pemberian nama dan panggilan terhadap anak, dengan panggilan yang baik. Janganlah sekali-kali kita memanggil dan menghardik anak kita dengan nama yang buruk karena itu akan berpengaruh dengan kepribadian mereka nantinya.
Orang tua juga berkewajiban memperkenalkan kitab suci yang menjadi pedoman hidup, dan mengajarkan isi kandungan kitab suci terhadap anak-anaknya. Dalam hadits diatas juga di jelaskan, setiap ayah berkewajiban memberikan ibu yang baik buat anaknya. Dalam hal ini adalah ibu yang tidak hanya bisa melahirkan, namun juga mengasuh dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang.
“Al Ummu Madrasatun” ....setiap ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Dalam hal ini ibu harus mampu memberikan pembinaan yang baik buat anaknya. Ibu yang memahami bagaimana kejiwaan anak, dan ibu yang mampu mengarahkan setiap langkah-langkah anaknya dengan baik. Ibulah yang membuat anak itu menjadi baik dan ibu pula yang membuat anak itu menjadi buruk.
Namun bagaimana dengan orang tua yang menelantarkan anaknya, yang membuang anaknya begitu saja, yang tidak memberikan hak-hak terhadap anaknya. Bagaimana dengan orang tua yang selalu meghardik anak-anaknya. Bagaimana dengan orang tua yang selalu membuat anaknya menangis?....Bagaimana pertanggung jawabannya kelak? Wallahu a'lam
:: Afrianti, kader PKS Pesanggrahan, kini tinggal di Kota Surakarta bersama keluarga
“Aku belum bisa dikatakan wanita sempurna”. Keluh temanku pada suatu hari. Aku yang mendengarnya menjadi heran, karena menurutku temanku ini adalah wanita yang sempurna, cantik, pintar dan sukses juga dalam karirnya.
“Aku belum bisa jadi ibu yang baik buat anak-anakku...” Jawaban tamanku seolah-olah tau apa yang aku fikirkan. “Anak-anakku semua diasuh sama pembantu. Yaaa...meskipun mereka ada didekat aku, namun keseharian mereka bukan sama aku. Pekerjaan aku sudah membuat aku jauh dari mereka,” cerita temanku pada waktu itu.
Kadang aku heran juga, banyak wanita yang membuang anaknya, bapak yang memperkosa anak wanitanya, orang tua yang membunuh anaknya, padahal anak adalah amanah yang Allah titipkan pada kita yang mesti dijaga.
Dan pada saatnya tiba, kita harus mempertanggung jawabkan semua yang Allah amanahkan pada kita. Tidak seharusnya kita menelantarkan apa yang telah Allah titipkan pada kita. Hak anak atas kita adalah memberikan nama yang baik, yaitu nama yang mengandung doa, mengajarkan Alquran dan menjadi ibu yang baik (Al Hadits).
Hadits diatas sangatlah jelas, orang tua mempunyai kewajiban terhadap anaknya. Kewajiban terhadap pemberian nama dan panggilan terhadap anak, dengan panggilan yang baik. Janganlah sekali-kali kita memanggil dan menghardik anak kita dengan nama yang buruk karena itu akan berpengaruh dengan kepribadian mereka nantinya.
Orang tua juga berkewajiban memperkenalkan kitab suci yang menjadi pedoman hidup, dan mengajarkan isi kandungan kitab suci terhadap anak-anaknya. Dalam hadits diatas juga di jelaskan, setiap ayah berkewajiban memberikan ibu yang baik buat anaknya. Dalam hal ini adalah ibu yang tidak hanya bisa melahirkan, namun juga mengasuh dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang.
“Al Ummu Madrasatun” ....setiap ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Dalam hal ini ibu harus mampu memberikan pembinaan yang baik buat anaknya. Ibu yang memahami bagaimana kejiwaan anak, dan ibu yang mampu mengarahkan setiap langkah-langkah anaknya dengan baik. Ibulah yang membuat anak itu menjadi baik dan ibu pula yang membuat anak itu menjadi buruk.
Namun bagaimana dengan orang tua yang menelantarkan anaknya, yang membuang anaknya begitu saja, yang tidak memberikan hak-hak terhadap anaknya. Bagaimana dengan orang tua yang selalu meghardik anak-anaknya. Bagaimana dengan orang tua yang selalu membuat anaknya menangis?....Bagaimana pertanggung jawabannya kelak? Wallahu a'lam
:: Afrianti, kader PKS Pesanggrahan, kini tinggal di Kota Surakarta bersama keluarga
9.2.12
Keluarga, Pondasi Utama Pembentukan Karakter Anak
Kamis, 09 Februari 2012
Oleh Tarwiyah
Kebanyakan mereka yang tinggal di kota-kota besar berharap sekolah dapat berperan membentuk karakter anak, selain tentunya berfungsi sebagai tempat untuk menimba ilmu.
Namun, kunci pembentukan karakter dan fondasi pendidikan yang paling utama adalah keluarga. Dan sekolah hanyalah pelaksana proyek dari pendidikan karakter anak.
Sekolah yang ideal adalah sekolah yang juga dapat membantu para siswanya untuk mencari kebenaran, bukan hanya mengajarkan sesuatu yang mereka sukai. Karena itu, dalam memperoleh pendidikan, diperlukan kebijaksanaan agar pengetahuan ini berguna bagi anak didik dan juga masyarakat.
Pendidikan juga merupakan sebuah kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat tindakan edukatif dan didaktis yang diperuntukkan bagi generasi yang bertumbuh. Dalam kegiatan mendidik, manusia menghayati adanya tujuan-tujuan pendidikan, baik jangka pendek, menengah ataupun jangka panjang.
Selain membekali para siswanya dengan ilmu, tentunya sekolah juga harus membentuk siswa menjadi bagian dari masyarakat yang baik. Terlepas dari penting dan besarnya peranan sekolah sebagai “pencetak” langsung sumber daya manusia (SDM), namun fondasi utama pendidikan adalah tetap keluarga. Sekolah hanya berfungsi sebagai 'kontraktor' pendidikan dari rumah.
Apa yang diajarkan di sekolah adalah aplikasi serta pengembangan dari setiap pengetahuan dasar yang diperoleh dari rumah. Pembentukan karakter dan moral serta etika, sebaiknya sudah dilakukan sebelum si anak berangkat ke sekolah.
Kunci keberhasilan pembentukan karakter seorang anak terletak pada keluarga, sebab keluarga menjadi wadah pembentukan karakter yang utama dan pertama. Semua kita seharusnya menyadari akan hal itu.
Kendati ada sekolah dan lingkungan masyarakat yang turut membentuk kepribadian seseorang, namun tetap kunci utama terletak pada orangtua. Karena orangtua tidak hanya mendidik anak sewaktu kecil, tetapi sampai mereka dewasa.
Namun masalahnya, bagaimana setiap keluarga dapat melaksanakan tugas itu dengan semaksimal mungkin. Mari kita didik anak-anak kita dengan pendidikan dan pembetukan karakter, moral dan etika yang dilandasi dengan cinta kasih orangtua kepada mereka. Agar kelak, saat mereka sudah dewasa mengerti akan arti pendidikan dan tanggungjawab yang diemban orangtuanya dahulu. Wallahua’lam
Kebanyakan mereka yang tinggal di kota-kota besar berharap sekolah dapat berperan membentuk karakter anak, selain tentunya berfungsi sebagai tempat untuk menimba ilmu.
Namun, kunci pembentukan karakter dan fondasi pendidikan yang paling utama adalah keluarga. Dan sekolah hanyalah pelaksana proyek dari pendidikan karakter anak.
Sekolah yang ideal adalah sekolah yang juga dapat membantu para siswanya untuk mencari kebenaran, bukan hanya mengajarkan sesuatu yang mereka sukai. Karena itu, dalam memperoleh pendidikan, diperlukan kebijaksanaan agar pengetahuan ini berguna bagi anak didik dan juga masyarakat.
Pendidikan juga merupakan sebuah kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat tindakan edukatif dan didaktis yang diperuntukkan bagi generasi yang bertumbuh. Dalam kegiatan mendidik, manusia menghayati adanya tujuan-tujuan pendidikan, baik jangka pendek, menengah ataupun jangka panjang.
Selain membekali para siswanya dengan ilmu, tentunya sekolah juga harus membentuk siswa menjadi bagian dari masyarakat yang baik. Terlepas dari penting dan besarnya peranan sekolah sebagai “pencetak” langsung sumber daya manusia (SDM), namun fondasi utama pendidikan adalah tetap keluarga. Sekolah hanya berfungsi sebagai 'kontraktor' pendidikan dari rumah.
Apa yang diajarkan di sekolah adalah aplikasi serta pengembangan dari setiap pengetahuan dasar yang diperoleh dari rumah. Pembentukan karakter dan moral serta etika, sebaiknya sudah dilakukan sebelum si anak berangkat ke sekolah.
Kunci keberhasilan pembentukan karakter seorang anak terletak pada keluarga, sebab keluarga menjadi wadah pembentukan karakter yang utama dan pertama. Semua kita seharusnya menyadari akan hal itu.
Kendati ada sekolah dan lingkungan masyarakat yang turut membentuk kepribadian seseorang, namun tetap kunci utama terletak pada orangtua. Karena orangtua tidak hanya mendidik anak sewaktu kecil, tetapi sampai mereka dewasa.
Namun masalahnya, bagaimana setiap keluarga dapat melaksanakan tugas itu dengan semaksimal mungkin. Mari kita didik anak-anak kita dengan pendidikan dan pembetukan karakter, moral dan etika yang dilandasi dengan cinta kasih orangtua kepada mereka. Agar kelak, saat mereka sudah dewasa mengerti akan arti pendidikan dan tanggungjawab yang diemban orangtuanya dahulu. Wallahua’lam
9.2.12
Catatan Perjalanan Ibadah Umrah ke Baitullah (16)
Oleh Pramana Asmadiredja
Khusyu Berdoa di depan Ka'bah
Seolah sudah turun temurun atau dengan kata lain sudah menjadi tradisi, mereka yang akan pergi Haji atau Umrah selalu dititipi sejumlah permintaan doa dari keluarga besar, kawan kantor, kawan main, tetangga, saudara, atau siapa saja untuk didoakan di tanah suci.
Mereka semua menginginkan didoakan di Raudhah atau di depan Ka’bah (multazam), karena doa lebih mudah makbulnya dan didengar oleh yang Maha Kuasa. Saya termasuk yang mencatat seluruh pesan yang diminta oleh kawan, keluarga, tetangga, saudara dan siapa saja agar disampaikan doa dan permintaannya di tanah air.
Bahkan beberapa menit sebelum keberangkatan ke Mekkah, di Bandara Soekarno Hatta, ada pesan singkat yang masuk melalui Hapeku, “Semoga Allah SWT memudahkan urusan dan mengabulkan doa-doa antum dalam umrah kali ini. Jangan lupa tempat-tempat yang mustajab dalam berdoa. Ikutkan ane dalam doa-doa antum yah. Syukron”.
Ada sekitar dua ratusan yang minta di doakan di 2 tempat mustajab, yaitu Raudhah (Masjid nabawi) dan di depan Ka’bah (Multazam, Mekkah). Kebanyak doa yang diminta adalah mengenai jodoh, sukses bisnis, mendapatkan anak, anak yang pintar dan berbakti kepada orangtua, dan masih banyak yang lainnya.
Banyak jamaah, yang sudah di depan Ka’bah, bersimpuh dengan khusyu, termasuk saya dan kawan satu rombongan. Kedua tangan diangkat ke atas, menengadahkan telapak tangan terbuka mengungkapkan isi hati dan keinginan kepada Maha Pencipta. Setelah sebelumnya kami dan para jamaah lainnya membaca Alquran untuk menenangkan jiwa.
Mata menatap tajam daftar lampiran permintaan doa yang saya bawa, siapa-siapa yang meminta dipanjatkan doanya dan apa isi permintaannya. Ada rasa kenikmatan manakala doa-doa titipan itu dapat kita laksanakan.
Doa para jamaah yang menunaikan Umrah begitu khusyu termasuk saya dan kawan satu rombongan. Segala puja dan puji telah dilantunkan, sambil berusaha mengingat-ingat siapa saja yang telah memesan padanya untuk di doakan.
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Termasuk siapa-siapa yang meminta di doakan. “Ya Allah perkenankanlah doaku ini serta mereka yang telah meminta dan memesankan doanya padaku. Ya Allah kabulkanlah doa kami ini”. (...bersambung)
Sebelum doa, tilawah Alquran dahulu
Sebelum doa, tilawah Alquran dahulu berlatar jam raksasa
Khusyu Berdoa di depan Ka'bah
Seolah sudah turun temurun atau dengan kata lain sudah menjadi tradisi, mereka yang akan pergi Haji atau Umrah selalu dititipi sejumlah permintaan doa dari keluarga besar, kawan kantor, kawan main, tetangga, saudara, atau siapa saja untuk didoakan di tanah suci.
Mereka semua menginginkan didoakan di Raudhah atau di depan Ka’bah (multazam), karena doa lebih mudah makbulnya dan didengar oleh yang Maha Kuasa. Saya termasuk yang mencatat seluruh pesan yang diminta oleh kawan, keluarga, tetangga, saudara dan siapa saja agar disampaikan doa dan permintaannya di tanah air.
Bahkan beberapa menit sebelum keberangkatan ke Mekkah, di Bandara Soekarno Hatta, ada pesan singkat yang masuk melalui Hapeku, “Semoga Allah SWT memudahkan urusan dan mengabulkan doa-doa antum dalam umrah kali ini. Jangan lupa tempat-tempat yang mustajab dalam berdoa. Ikutkan ane dalam doa-doa antum yah. Syukron”.
Ada sekitar dua ratusan yang minta di doakan di 2 tempat mustajab, yaitu Raudhah (Masjid nabawi) dan di depan Ka’bah (Multazam, Mekkah). Kebanyak doa yang diminta adalah mengenai jodoh, sukses bisnis, mendapatkan anak, anak yang pintar dan berbakti kepada orangtua, dan masih banyak yang lainnya.
Banyak jamaah, yang sudah di depan Ka’bah, bersimpuh dengan khusyu, termasuk saya dan kawan satu rombongan. Kedua tangan diangkat ke atas, menengadahkan telapak tangan terbuka mengungkapkan isi hati dan keinginan kepada Maha Pencipta. Setelah sebelumnya kami dan para jamaah lainnya membaca Alquran untuk menenangkan jiwa.
Mata menatap tajam daftar lampiran permintaan doa yang saya bawa, siapa-siapa yang meminta dipanjatkan doanya dan apa isi permintaannya. Ada rasa kenikmatan manakala doa-doa titipan itu dapat kita laksanakan.
Doa para jamaah yang menunaikan Umrah begitu khusyu termasuk saya dan kawan satu rombongan. Segala puja dan puji telah dilantunkan, sambil berusaha mengingat-ingat siapa saja yang telah memesan padanya untuk di doakan.
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Termasuk siapa-siapa yang meminta di doakan. “Ya Allah perkenankanlah doaku ini serta mereka yang telah meminta dan memesankan doanya padaku. Ya Allah kabulkanlah doa kami ini”. (...bersambung)
Sebelum doa, tilawah Alquran dahulu
Sebelum doa, tilawah Alquran dahulu berlatar jam raksasa
8.2.12
Rumah Tangga Ideal, Dambaan Kita
Rabu, 08 Februari 2012
Oleh Tarwiyah
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS Al Furqan: 74 ).
Rumah Tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang). Agar rumah tangga dan keluarga ideal maka pasangan suami istri harus memahami makna, tujuan dan fungsi rumah tangga.
Selain itu, pasangan baru yang akan mengarungi bahtera rumah tangga harus mempersiapkan di antaranya mental, mengenali pasangan, menyusun agenda kegiatan, mempelajari kesenangan pasangan, adaptasi lingkungan, menanamkan rasa saling percaya, musyawarah serta menciptakan suasana Islami.
Dalam rumah tangga yang Islami, suami-istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
Dengan demikian upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridha'an Allah SWT dapat terealisir. Tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda ‘kemelut’ perselisihan dan percekcokan.
Marilah kita berupaya untuk merealisasikan pernikahan secara Islam dan membina rumah tangga yang Islami. Disamping itu wajib bagi kita meninggalkan aturan, tatacara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Wallahua’lam
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS Al Furqan: 74 ).
Rumah Tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang). Agar rumah tangga dan keluarga ideal maka pasangan suami istri harus memahami makna, tujuan dan fungsi rumah tangga.
Selain itu, pasangan baru yang akan mengarungi bahtera rumah tangga harus mempersiapkan di antaranya mental, mengenali pasangan, menyusun agenda kegiatan, mempelajari kesenangan pasangan, adaptasi lingkungan, menanamkan rasa saling percaya, musyawarah serta menciptakan suasana Islami.
Dalam rumah tangga yang Islami, suami-istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
Dengan demikian upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridha'an Allah SWT dapat terealisir. Tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda ‘kemelut’ perselisihan dan percekcokan.
Marilah kita berupaya untuk merealisasikan pernikahan secara Islam dan membina rumah tangga yang Islami. Disamping itu wajib bagi kita meninggalkan aturan, tatacara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Wallahua’lam
8.2.12
Belajar dari Cinta (sebuah ungkapan hati)
Oleh Pramana Asmadiredja
Cinta adalah fitrah yang dimiliki setiap manusia
namun bagaimana kita membingkai cinta tersebut
agar Cinta tidak mengendalikan Diri kita
tetapi Diri kitalah yang mengendalikan Cinta
Mungkin hal itu cukup sulit
apalagi menemukan teladan itu
disekitar kita untuk saat ini
walaupun bukan tidak ada
bisa jadi karena kita tidak mengetahui
saking rapatnya cinta dikendalikan
Tetapi
justru terbanyak yang muncul ke permukaan
yang justru seharusnya tidak kita contoh
apakah kekurangan teladan?
mungkin saja
Dan fragmen terbesar dari cinta hakiki adalah
tentang membingkai perasaan dan
bertanggung jawab akan perasaan tersebut
karena ia bukanlah janji-janji
untuk menepis mimpi
Cinta adalah fitrah yang dimiliki setiap manusia
namun bagaimana kita membingkai cinta tersebut
agar Cinta tidak mengendalikan Diri kita
tetapi Diri kitalah yang mengendalikan Cinta
Mungkin hal itu cukup sulit
apalagi menemukan teladan itu
disekitar kita untuk saat ini
walaupun bukan tidak ada
bisa jadi karena kita tidak mengetahui
saking rapatnya cinta dikendalikan
Tetapi
justru terbanyak yang muncul ke permukaan
yang justru seharusnya tidak kita contoh
apakah kekurangan teladan?
mungkin saja
Dan fragmen terbesar dari cinta hakiki adalah
tentang membingkai perasaan dan
bertanggung jawab akan perasaan tersebut
karena ia bukanlah janji-janji
untuk menepis mimpi
8.2.12
Catatan Perjalanan Ibadah Umrah ke Baitullah (15)
Oleh Pramana Asmadiredja
Mampir di Peternakan Unta Hudaibiyah
Selepas dari mendaki Jabal Nur (Gua Hira), Rabu, 27 April 2011, saya bersama rombongan meneruskan perjalanan menuju peternakan Unta di Hudaibiyah, yang jaraknya cukup jauh.
Hudaibiyah yang letaknya berada sedikit di luar Kota Mekkah, menuju Jeddah, menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi jamaah umrah maupun haji dari berbagai negara untuk melihat unta dari dekat sekaligus minum susunya.
Jangan berpikiran peternakan unta yang ada di tepi jalan raya Mekkah-Jeddah itu dikelola dengan baik. Peternakan disini merupakan hamparan luas padang pasir tandus dan dibiarkan terbuka alami dengan dikelilingi bukit batu cadas tanpa ada tempat tertutup untuk mengurangi sengatan matahari.
Jika ada tempat yang tertutup hanya tempat istirahat untuk penjaga unta dengan kondisi yang sangat tidak layak bangunannya karena tendanya sudah robek-robek dan penuh tambalan di sana-sini. Sementara unta yang dipelihara dikumpulkan dalam suatu kandang terbuka yang hanya dibatasi oleh kawat yang sangat sederhana, agar unta tidak lari kemana-mana.
Setiba di peternakan, kami semua turun dari mobil untuk melihat dari dekat unta-unta yang sedang diambil susunya. Meski terik panas, tak menghalangi kami untuk ke lokasi peternakan ini. Saya melihat Unta yang besar-besar dan sehat ditemani oleh seorang gembala sekaligus memesan susu unta untuk 14 orang.
Peternak unta ini mengatakan dalam bahasa Indonesia yang cukup jelas berapa harga dari susu untanya. “1 botol 5 riyal,” katanya. Ukuran botol untuk menampung susu unta ini kurang lebih 150 ml. Kami pun membeli 14 botol dan dibagikan satu-satu ke yang lainnya.
Susu unta memiliki rasa manis dan tajam, juga terkadang terasa asin. Susu unta adalah sumber protein yang berlimpah dengan kegiatan perlindungan dan potensi anti-mikroba. Susu unta tidak perlu dimasak hingga mendidih layaknya susu kambing atau sapi sebelum dionsumsi. Susu unta yang kaya akan rasa ini, sebaiknya diminum secara perlahan, untuk memungkinkan perut mencernanya.
Hudaibiyah adalah salah satu tempat bersejarah. Hudaibiyah sendiri berada sekitar 26 kilometer dari Masjidil Haram dan daerah ini adalah daerah perbatasan di luar Tanah Haram. Berkunjung ke Hudaibiyah dapat ditempuh melalui jalur jalan lama Makkah-Jeddah.
Di sepanjang jalan menuju Hudaibiyah tampak ranch-ranch peternakan onta dan domba, di sela-sela pegunungan dan bukit pasir. Perjalanan hari itu terasa menyenangkan, karena selain citytour, kami juga melaksanakan miqat di Hudaibiyah (sekaligus niat umrah). (...bersambung)
Penasaran ingin memegang unta
Penasaran ingin memegang unta
Penasaran ingin memegang unta
Penasaran ingin memegang unta
Peternak sedang memeras susu unta
Mampir di Peternakan Unta Hudaibiyah
Selepas dari mendaki Jabal Nur (Gua Hira), Rabu, 27 April 2011, saya bersama rombongan meneruskan perjalanan menuju peternakan Unta di Hudaibiyah, yang jaraknya cukup jauh.
Hudaibiyah yang letaknya berada sedikit di luar Kota Mekkah, menuju Jeddah, menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi jamaah umrah maupun haji dari berbagai negara untuk melihat unta dari dekat sekaligus minum susunya.
Jangan berpikiran peternakan unta yang ada di tepi jalan raya Mekkah-Jeddah itu dikelola dengan baik. Peternakan disini merupakan hamparan luas padang pasir tandus dan dibiarkan terbuka alami dengan dikelilingi bukit batu cadas tanpa ada tempat tertutup untuk mengurangi sengatan matahari.
Jika ada tempat yang tertutup hanya tempat istirahat untuk penjaga unta dengan kondisi yang sangat tidak layak bangunannya karena tendanya sudah robek-robek dan penuh tambalan di sana-sini. Sementara unta yang dipelihara dikumpulkan dalam suatu kandang terbuka yang hanya dibatasi oleh kawat yang sangat sederhana, agar unta tidak lari kemana-mana.
Setiba di peternakan, kami semua turun dari mobil untuk melihat dari dekat unta-unta yang sedang diambil susunya. Meski terik panas, tak menghalangi kami untuk ke lokasi peternakan ini. Saya melihat Unta yang besar-besar dan sehat ditemani oleh seorang gembala sekaligus memesan susu unta untuk 14 orang.
Peternak unta ini mengatakan dalam bahasa Indonesia yang cukup jelas berapa harga dari susu untanya. “1 botol 5 riyal,” katanya. Ukuran botol untuk menampung susu unta ini kurang lebih 150 ml. Kami pun membeli 14 botol dan dibagikan satu-satu ke yang lainnya.
Susu unta memiliki rasa manis dan tajam, juga terkadang terasa asin. Susu unta adalah sumber protein yang berlimpah dengan kegiatan perlindungan dan potensi anti-mikroba. Susu unta tidak perlu dimasak hingga mendidih layaknya susu kambing atau sapi sebelum dionsumsi. Susu unta yang kaya akan rasa ini, sebaiknya diminum secara perlahan, untuk memungkinkan perut mencernanya.
Hudaibiyah adalah salah satu tempat bersejarah. Hudaibiyah sendiri berada sekitar 26 kilometer dari Masjidil Haram dan daerah ini adalah daerah perbatasan di luar Tanah Haram. Berkunjung ke Hudaibiyah dapat ditempuh melalui jalur jalan lama Makkah-Jeddah.
Di sepanjang jalan menuju Hudaibiyah tampak ranch-ranch peternakan onta dan domba, di sela-sela pegunungan dan bukit pasir. Perjalanan hari itu terasa menyenangkan, karena selain citytour, kami juga melaksanakan miqat di Hudaibiyah (sekaligus niat umrah). (...bersambung)
Penasaran ingin memegang unta
Penasaran ingin memegang unta
Penasaran ingin memegang unta
Penasaran ingin memegang unta
Peternak sedang memeras susu unta
7.2.12
Membentuk Al Usrah Al Haroki
Selasa, 07 Februari 2012
Oleh Tarwiyah
Keluarga haroki (al usrah al haraki) adalah keluarga yang seluruh anggota di dalamnya memiliki komitmen pada dakwah (Islam dalam wujud yang aktif dan dinamis).
Sekali lagi, mereka tak harus selalu atau bahkan (mungkin) jarang yang bergelar “Singa Panggung” atau “Singa Podium”.
Bisa jadi dia justru tidak terkenal, namun aktivitas yang dijalaninya penuh dengan motivasi dan semangat dakwah masuk keluar rumah yang ditemuinya.
Karena medan dakwah yang hakiki bukanlah di mimbar atau di masjid namun pada seluruh lapangan kehidupan. Setidaknya ada lima hal yang dapat dilakukan agar keluarga kita dapat mendekati idealita keluarga haraki.
Pertama, jadikan rumah kita sebagai masjid. Artinya dari sanalah aktivitas ibadah dijalankan dengan sebaik-baiknya. Disana tidak akan terdengar musik-musik lalai yang didendangkan atau acara-acara televisi yang penuh dengan gairah maksiat. Sang ayah adalah Imam yang memimpin keluarganya untuk selalu taat pada Allah.
Kedua, menjadikan rumah sebagai sekolah. Dimana aktivitas menuntut ilmu selalu dikerjakan. Tiap saat adalah waktu untuk belajar. Saat bersenda gurau, ketika malam tiba atau tatkala subuh menjelang. Semuanya adalah saat-saat belajar.
Ketiga, menjadikan rumah sebagai benteng tempat pengkaderan dan pertahanan utama. Disanalah sang anak dikenalkan pada misi dan tujuan hidup. Semua anggota menggembleng diri menjadi prajurit yang siap tempur. Mereka mempersiapkan diri memiliki seluruh sarana untuk menjadi mujahid sejati.
Keempat, menjadikan rumah sebagai rumah sakit. Yakni sebagai tempat orang datang untuk mencari kesembuhan. Rumah keluarga haraki selalu disibukkan oleh orang-orang yang mencari obat kebahagiaan akhirat. Ia akan selalu menjadi rujukan masyarakat karena kemanjuran nasehat dan solusi yang dianjurkan atau dikerjakan.
Kelima, menjadikan rumah sebagai pelabuhan ruhani. Tempat seluruh anggota keluarga mendapatkan kedamaian setelah beraktivitas seharian. Disanalah berdiri sendi-sendi ukhuwah, simpati, rasa social serta ruh keimanan bersemayam.
Dan terakhir, keluarga haraki selalu berpatokan dan mencoba berjalan pada titian nilai yang telah diwariskan padanya oleh penutup para Nabi, yaitu jalan perjuangan, jalan dakwah yang menyejukkan. Wallallahua'lam.
Keluarga haroki (al usrah al haraki) adalah keluarga yang seluruh anggota di dalamnya memiliki komitmen pada dakwah (Islam dalam wujud yang aktif dan dinamis).
Sekali lagi, mereka tak harus selalu atau bahkan (mungkin) jarang yang bergelar “Singa Panggung” atau “Singa Podium”.
Bisa jadi dia justru tidak terkenal, namun aktivitas yang dijalaninya penuh dengan motivasi dan semangat dakwah masuk keluar rumah yang ditemuinya.
Karena medan dakwah yang hakiki bukanlah di mimbar atau di masjid namun pada seluruh lapangan kehidupan. Setidaknya ada lima hal yang dapat dilakukan agar keluarga kita dapat mendekati idealita keluarga haraki.
Pertama, jadikan rumah kita sebagai masjid. Artinya dari sanalah aktivitas ibadah dijalankan dengan sebaik-baiknya. Disana tidak akan terdengar musik-musik lalai yang didendangkan atau acara-acara televisi yang penuh dengan gairah maksiat. Sang ayah adalah Imam yang memimpin keluarganya untuk selalu taat pada Allah.
Kedua, menjadikan rumah sebagai sekolah. Dimana aktivitas menuntut ilmu selalu dikerjakan. Tiap saat adalah waktu untuk belajar. Saat bersenda gurau, ketika malam tiba atau tatkala subuh menjelang. Semuanya adalah saat-saat belajar.
Ketiga, menjadikan rumah sebagai benteng tempat pengkaderan dan pertahanan utama. Disanalah sang anak dikenalkan pada misi dan tujuan hidup. Semua anggota menggembleng diri menjadi prajurit yang siap tempur. Mereka mempersiapkan diri memiliki seluruh sarana untuk menjadi mujahid sejati.
Keempat, menjadikan rumah sebagai rumah sakit. Yakni sebagai tempat orang datang untuk mencari kesembuhan. Rumah keluarga haraki selalu disibukkan oleh orang-orang yang mencari obat kebahagiaan akhirat. Ia akan selalu menjadi rujukan masyarakat karena kemanjuran nasehat dan solusi yang dianjurkan atau dikerjakan.
Kelima, menjadikan rumah sebagai pelabuhan ruhani. Tempat seluruh anggota keluarga mendapatkan kedamaian setelah beraktivitas seharian. Disanalah berdiri sendi-sendi ukhuwah, simpati, rasa social serta ruh keimanan bersemayam.
Dan terakhir, keluarga haraki selalu berpatokan dan mencoba berjalan pada titian nilai yang telah diwariskan padanya oleh penutup para Nabi, yaitu jalan perjuangan, jalan dakwah yang menyejukkan. Wallallahua'lam.
7.2.12
Al Khusyu Inda Tilawatil Quran
Oleh Tarwiyah
“Inilah (Al qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS Ali Imran: 138). Tilawah alquran dapat menghaluskan jiwa kita, apabila dalam tilawahnya disertai adab-adab batin dalam perenungan, khusyu dan tadabbur.
Memahami keagungan dan ketinggian firman, karunia Allah dan kasih sayang-Nya kepada makhluk dalam menurunkan Alquran dari ‘Arsy kemuliaanNya ke derajat pemahaman makhluknya.
Mengagungkan Mutakallim (Allah). Pada permulaan tilawah alquran, seorang pembaca harus menghadirkan di dalam hatinya keagungan Allah (Al Mutakallim) dan mengetahui bahwa apa yang dibacanya bukanlah pembicaraan manusia.
Kehadiran hati dan meninggalkan bisikan jiwa. “Wahai Yahya! ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”. (QS Maryam: 12). Yakni dengan serius serta sungguh-sungguh, berkonsentrasi penuh dalam membacanya dan mengarahkan perhatian hanya kepada-Nya.
Tadabbur. Tujuan membaca alquran adalah dalam rangka tadabbur. Oleh karena itu di sunnahkan membaca alquran dengan tartil, sebab di dalam tartil secara zhahir memungkinkan tadabbur dengan batin. Sahabat Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Tidak ada kebaikan pada ibadah tanpa pemahaman di dalamnya dan tidak ada kebaikan pada bacaan tanpa tadabbur di dalamnya”.
Tafahum (memahami secara mendalam) yaitu mencari kejelasan dari setiap ayat secara tepat, karena Alquran meliputi berbagai masalah tentang sifat-sifat Allah SWT, perbuatan-perbuatan-Nya ihwal para nabi, ihwal para pendusta dan bagaimana mereka dihancurkan, perintah-perintah-Nya, larangan-larangan-Nya, surga dan neraka.
“Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Raja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS Al Hasyr: 23).
Hendaklah makna-makna dari nama dan sifat-sifat tersebut direnungkan agar dapat mengungkapkan berbagai rahasianya.Meninggalkan hal-hal yang dapat menghalangi pemahaman.
Perhatiannya tertuju kepada penuaian bacaan huruf-hurufnya (Makharijul huruf)
Taqlid kepada mazhab yang didengarnya terpaku padanya dan fanatik kepadanya, sehingga hanya mengikuti apa yang di dengar tanpa berusaha memahaminya
Terus menerus dalam dosa atau sikap sombong atau secara umum terjangkiti oleh penyakit hawa nafsu kepada dunia
Takhshish. Yaitu menyadari bahwa dirinya merupakan sasaran yang dituju oleh setiap khithah (nash) yang ada di dalam Alquran. Jika mendengar suatu perintah atau larangan, maka ia memahami bahwa perintah atau larangan itu ditujukan kepada dirinya. Demikian pula apabila mendengar janji atau ancaman (QS Al An’am: 14)
Ta’atstsur (Mengimbas ke dalam hati). Yakni hatinya terimbas dengan berbagai imbasan yang berbeda sesuai dengan beragamnya ayat yang dihayatinya. Terimbasnya seorang hamba dengan tilawah alquran ialah dengan menghayati ayat yang dibaca. Ketika dia membaca ayat-ayat rahmat dan ampunan, ia bergembira dan senang. Ketika membaca ayat-ayat tentang neraka, ia merasa lemas karena saking takutnya, dan sebagainya.
Taraqqi. Yakni meningkatkan penghayatan sampai ketingkat mendengarkan kalam dari Allah SWT bukan dari dirinya sendiri. Sahabat Utsman bin Affan dan Hudzaifah ra berkata jika hati bersih niscaya tidak akan pernah merasa kenyang dari membaca Alquran.
Tilawah Alquran dengan sebenar-benar tilawah ialah ikut sertanya lisan, akal dan hati secara simultan. Tugas lisan ialah membetulkan huruf dengan tartil, tugas akal menafsirkan maknanya dan tugas hati adalah mengambil pelajaran darinya. Wallahua'lam
“Inilah (Al qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS Ali Imran: 138). Tilawah alquran dapat menghaluskan jiwa kita, apabila dalam tilawahnya disertai adab-adab batin dalam perenungan, khusyu dan tadabbur.
Memahami keagungan dan ketinggian firman, karunia Allah dan kasih sayang-Nya kepada makhluk dalam menurunkan Alquran dari ‘Arsy kemuliaanNya ke derajat pemahaman makhluknya.
Mengagungkan Mutakallim (Allah). Pada permulaan tilawah alquran, seorang pembaca harus menghadirkan di dalam hatinya keagungan Allah (Al Mutakallim) dan mengetahui bahwa apa yang dibacanya bukanlah pembicaraan manusia.
Kehadiran hati dan meninggalkan bisikan jiwa. “Wahai Yahya! ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”. (QS Maryam: 12). Yakni dengan serius serta sungguh-sungguh, berkonsentrasi penuh dalam membacanya dan mengarahkan perhatian hanya kepada-Nya.
Tadabbur. Tujuan membaca alquran adalah dalam rangka tadabbur. Oleh karena itu di sunnahkan membaca alquran dengan tartil, sebab di dalam tartil secara zhahir memungkinkan tadabbur dengan batin. Sahabat Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Tidak ada kebaikan pada ibadah tanpa pemahaman di dalamnya dan tidak ada kebaikan pada bacaan tanpa tadabbur di dalamnya”.
Tafahum (memahami secara mendalam) yaitu mencari kejelasan dari setiap ayat secara tepat, karena Alquran meliputi berbagai masalah tentang sifat-sifat Allah SWT, perbuatan-perbuatan-Nya ihwal para nabi, ihwal para pendusta dan bagaimana mereka dihancurkan, perintah-perintah-Nya, larangan-larangan-Nya, surga dan neraka.
“Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Raja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS Al Hasyr: 23).
Hendaklah makna-makna dari nama dan sifat-sifat tersebut direnungkan agar dapat mengungkapkan berbagai rahasianya.Meninggalkan hal-hal yang dapat menghalangi pemahaman.
Perhatiannya tertuju kepada penuaian bacaan huruf-hurufnya (Makharijul huruf)
Taqlid kepada mazhab yang didengarnya terpaku padanya dan fanatik kepadanya, sehingga hanya mengikuti apa yang di dengar tanpa berusaha memahaminya
Terus menerus dalam dosa atau sikap sombong atau secara umum terjangkiti oleh penyakit hawa nafsu kepada dunia
Takhshish. Yaitu menyadari bahwa dirinya merupakan sasaran yang dituju oleh setiap khithah (nash) yang ada di dalam Alquran. Jika mendengar suatu perintah atau larangan, maka ia memahami bahwa perintah atau larangan itu ditujukan kepada dirinya. Demikian pula apabila mendengar janji atau ancaman (QS Al An’am: 14)
Ta’atstsur (Mengimbas ke dalam hati). Yakni hatinya terimbas dengan berbagai imbasan yang berbeda sesuai dengan beragamnya ayat yang dihayatinya. Terimbasnya seorang hamba dengan tilawah alquran ialah dengan menghayati ayat yang dibaca. Ketika dia membaca ayat-ayat rahmat dan ampunan, ia bergembira dan senang. Ketika membaca ayat-ayat tentang neraka, ia merasa lemas karena saking takutnya, dan sebagainya.
Taraqqi. Yakni meningkatkan penghayatan sampai ketingkat mendengarkan kalam dari Allah SWT bukan dari dirinya sendiri. Sahabat Utsman bin Affan dan Hudzaifah ra berkata jika hati bersih niscaya tidak akan pernah merasa kenyang dari membaca Alquran.
Tilawah Alquran dengan sebenar-benar tilawah ialah ikut sertanya lisan, akal dan hati secara simultan. Tugas lisan ialah membetulkan huruf dengan tartil, tugas akal menafsirkan maknanya dan tugas hati adalah mengambil pelajaran darinya. Wallahua'lam
6.2.12
PKS Pesanggrahan Menuju Pemilukada 2012
Senin, 06 Februari 2012
Pesanggrahan - Ketua DPC PKS Pesanggrahan Mohammad Yamin dalam diskusi dan sharing dengan unit pembinaan kader (UPK) di kantor DPC PKS Pesanggrahan, Perkantoran GRAND BINTARO Blok B 12A Jl Bintaro Permai RT 012 RW 09 Bintaro Pesanggrahan Jakarta Selatan menargetkan perolehan suara mayoritas PKS di Pesanggrahan pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta 2012 mendatang.
Yamin menyebutkan bahwa patokan perolehan suaranya tidak lebih kecil dari perolehan suara pada Pilkada 2007, yaitu sebesar 38 persen.
“Untuk memenangi Pilkada Jakarta 2012, kita harus ekstra kerja keras serta tingkatkan pelayanan dan pembelaan kepada masyarakat,” kata Yamin di tengah diskusi, Jumat, 3 Februari 2012.
Yamin juga menegaskan seluruh kader PKS di Pesanggrahan harus terus menjaga dan memiliki komitmen serta motivasi untuk Perhelatan Pilkada 2012 Juli mendatang. Yamin juga meminta pengurus DPC PKS Pesanggrahan khususnya bidang Kaderisasi untuk terus menjaga motivasi yang dimiliki kader di Kecamatan Pesanggrahan.
“Kita harus harus terus tingkatkan kepedulian kepada warga masyarakat di wilayah Kecamatan Pesanggrahan dengan membuka pintu informasi sebanyak-banyaknya untuk disampaikan kepada struktur diatasnya atau langsung ke anggota legislatif DPRD Jakarta,” ungkap Yamin. (yus/pras/pkspesanggrahan)
Yamin menyebutkan bahwa patokan perolehan suaranya tidak lebih kecil dari perolehan suara pada Pilkada 2007, yaitu sebesar 38 persen.
“Untuk memenangi Pilkada Jakarta 2012, kita harus ekstra kerja keras serta tingkatkan pelayanan dan pembelaan kepada masyarakat,” kata Yamin di tengah diskusi, Jumat, 3 Februari 2012.
Yamin juga menegaskan seluruh kader PKS di Pesanggrahan harus terus menjaga dan memiliki komitmen serta motivasi untuk Perhelatan Pilkada 2012 Juli mendatang. Yamin juga meminta pengurus DPC PKS Pesanggrahan khususnya bidang Kaderisasi untuk terus menjaga motivasi yang dimiliki kader di Kecamatan Pesanggrahan.
“Kita harus harus terus tingkatkan kepedulian kepada warga masyarakat di wilayah Kecamatan Pesanggrahan dengan membuka pintu informasi sebanyak-banyaknya untuk disampaikan kepada struktur diatasnya atau langsung ke anggota legislatif DPRD Jakarta,” ungkap Yamin. (yus/pras/pkspesanggrahan)
6.2.12
Catatan Perjalanan Ibadah Umrah ke Baitullah (14)
Oleh Pramana Asmadiredja
Jabal Nur, Gua Hira dan Semangat Nenek Tua
Hari masih pagi, Rabu, 27 April 2011, jam ditangan menunjukkan pukul 07.00 waktu setempat. Hari itu, sebanyak 14 orang termasuk saya didalamnya, berencana untuk melakukan citytour ke Jabal Nur (Gua Hira) serta mengunjungi peternakan unta di Hudaibiyah, sekaligus melaksanakan miqat di Hudaibiyah (dengan niat umrah).
Dipimpin ustadz Abdul Aziz Matnur (almarhum, semoga Allah SWT memberikan kebaikan di sisi-Nya), kami semua menaiki minibus yang cukup keren dan muat 14 orang, setelah sebelumnya terjadi tawar menawar harga. Setelah harga cocok, kami pun langsung meluncur ke lokasi pertama,yaitu menuju Jabal Nur, yang terletak di Timur Laut kota Makkah dengan jarak sekitar 6 kilometer dari Ka'bah, dan dengan ketinggian kira-kira 200 meter.
Jabal Nur atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Bukit/Gunung Cahaya, adalah bukit tandus dan gersang dimana Rasulullah SAW menyepi dan bermunajat kepada Allah SWT. Setiba di titik lokasi pemberhentian mobil, di ujung kaki Jabal Nur, pendakian pun langsung dimulai. Beruntung sekali rasanya dapat ziarah ke gua Hira.
Untuk menuju puncak gunung, rata-rata memerlukan waktu selama 45 menit bahkan lebih. Medannya cukup sulit dengan jalan berkelok-kelok. Kami pun harus mendaki melewati batu-batu terjal. Baru beberapa menit berjalan ke arah kaki bukit, nafas kami sudah mulai terasa sesak. Hal itu membuat kami harus mengatur nafas dengan cukup. Bahkan hingga kami harus istirahat beberapa kali.
Sungguh, perjalanan yang cukup melelahkan, nyali pun semakin menurun. Jalan bertangga, baru ditemukan setelah tiga perempat perjalanan. Beberapa meter sebelum puncak gunung, medannya sedikit ringan, dan kamipun bisa mengatur nafas dengan baik.
Beberapa kawan yang tak kuat mendaki jadi malu sendiri, ketika melihat seorang nenek, tiba-tiba turun dari balik bukit dan melewati rombongan kami. Jalan pun cukup susah payah dengan tongkatnya. “Wah, ibu itu yang tua saja sanggup mendaki bukit ini, masa kita yang masih muda malah keteteran, maunya ngaso melulu,” sahut salah seorang kawan dengan canda.
Ketangguhan sang nenek, langsung memotivasi kawan-kawan yang sejak tadi istirahat memulihkan tenaga. “Wah, nenek-nenek itu aja kuat. Masa kita nggak bisa sih, ayo jalan lagi,” canda kawan lainnya memberi semangat. Mendadak, hilang sudah rasa penat, berubah jadi semangat! Tetap semangat.
Mendekati puncak, jalanan sudah sulit dilalui. Terlihat antrian panjang dan mulai berjejal. Sulit untuk melalui jalur lain karena di samping jalur itu terdapat tebing yang curam dengan pemandangan langsung ke Kota Makkah. Akhirnya semua rombongan tiba diatas bukit.
Di puncak bukit, banyak orang sudah berdesakan. Mereka berusaha untuk masuk ke arah mulut gua yang terletak di salah satu tebing Jabal Nur. Terlihat, hanya ada beberapa yang berhasil masuk ke dalam gua yang berukuran tinggi sekitar dua meter. Gua itu terletak di belakang dua batu raksasa yang sangat dalam dan sempit. Di dalamnya, hanya cukup untuk tidur tiga orang dewasa. Para penziarah berebutan untuk shalat dan sekedar melihat ke dalamnya.
Pikiranpun saya langsung melayang, teringat bagaimana Nabi Muhammad SAW ketika mendaki bukit terjal itu setiap saat selama bertahun-tahun untuk menyepi atau berkhalwat di tempat tersebut sekaligus menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Juga bagaimana beliau berjalan kaki dari rumahnya menuju Gua Hira. Sungguh, perjuangan yang sangat berat dengan langkah dan tutunan dari Allah SWT.
Di gua Hira pula, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Wahyu itu terkandung dalam surat Al Alaq sebanyak lima ayat. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS Al Alaq: 1-5). (...bersambung)
Jabal Nur, tinggi menjulang
Kaki bukit dilihat dari atas Jabal Nur
Jalan berkelok khas Jabal Nur
Jam raksasa di gedung King Abdul Aziz Endowment terlihat dari puncak Jabal Nur
Jamaah berebut masuk ke GUA HIRA
Semangat Nenek tua (memakai tongkat) ziarah ke GUA HIRA
Rehat sejenak melepas lelah di puncak Jabal Nur
Foto bersama berlatar Jabal Nur
Jabal Nur, Gua Hira dan Semangat Nenek Tua
Hari masih pagi, Rabu, 27 April 2011, jam ditangan menunjukkan pukul 07.00 waktu setempat. Hari itu, sebanyak 14 orang termasuk saya didalamnya, berencana untuk melakukan citytour ke Jabal Nur (Gua Hira) serta mengunjungi peternakan unta di Hudaibiyah, sekaligus melaksanakan miqat di Hudaibiyah (dengan niat umrah).
Dipimpin ustadz Abdul Aziz Matnur (almarhum, semoga Allah SWT memberikan kebaikan di sisi-Nya), kami semua menaiki minibus yang cukup keren dan muat 14 orang, setelah sebelumnya terjadi tawar menawar harga. Setelah harga cocok, kami pun langsung meluncur ke lokasi pertama,yaitu menuju Jabal Nur, yang terletak di Timur Laut kota Makkah dengan jarak sekitar 6 kilometer dari Ka'bah, dan dengan ketinggian kira-kira 200 meter.
Jabal Nur atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Bukit/Gunung Cahaya, adalah bukit tandus dan gersang dimana Rasulullah SAW menyepi dan bermunajat kepada Allah SWT. Setiba di titik lokasi pemberhentian mobil, di ujung kaki Jabal Nur, pendakian pun langsung dimulai. Beruntung sekali rasanya dapat ziarah ke gua Hira.
Untuk menuju puncak gunung, rata-rata memerlukan waktu selama 45 menit bahkan lebih. Medannya cukup sulit dengan jalan berkelok-kelok. Kami pun harus mendaki melewati batu-batu terjal. Baru beberapa menit berjalan ke arah kaki bukit, nafas kami sudah mulai terasa sesak. Hal itu membuat kami harus mengatur nafas dengan cukup. Bahkan hingga kami harus istirahat beberapa kali.
Sungguh, perjalanan yang cukup melelahkan, nyali pun semakin menurun. Jalan bertangga, baru ditemukan setelah tiga perempat perjalanan. Beberapa meter sebelum puncak gunung, medannya sedikit ringan, dan kamipun bisa mengatur nafas dengan baik.
Beberapa kawan yang tak kuat mendaki jadi malu sendiri, ketika melihat seorang nenek, tiba-tiba turun dari balik bukit dan melewati rombongan kami. Jalan pun cukup susah payah dengan tongkatnya. “Wah, ibu itu yang tua saja sanggup mendaki bukit ini, masa kita yang masih muda malah keteteran, maunya ngaso melulu,” sahut salah seorang kawan dengan canda.
Ketangguhan sang nenek, langsung memotivasi kawan-kawan yang sejak tadi istirahat memulihkan tenaga. “Wah, nenek-nenek itu aja kuat. Masa kita nggak bisa sih, ayo jalan lagi,” canda kawan lainnya memberi semangat. Mendadak, hilang sudah rasa penat, berubah jadi semangat! Tetap semangat.
Mendekati puncak, jalanan sudah sulit dilalui. Terlihat antrian panjang dan mulai berjejal. Sulit untuk melalui jalur lain karena di samping jalur itu terdapat tebing yang curam dengan pemandangan langsung ke Kota Makkah. Akhirnya semua rombongan tiba diatas bukit.
Di puncak bukit, banyak orang sudah berdesakan. Mereka berusaha untuk masuk ke arah mulut gua yang terletak di salah satu tebing Jabal Nur. Terlihat, hanya ada beberapa yang berhasil masuk ke dalam gua yang berukuran tinggi sekitar dua meter. Gua itu terletak di belakang dua batu raksasa yang sangat dalam dan sempit. Di dalamnya, hanya cukup untuk tidur tiga orang dewasa. Para penziarah berebutan untuk shalat dan sekedar melihat ke dalamnya.
Pikiranpun saya langsung melayang, teringat bagaimana Nabi Muhammad SAW ketika mendaki bukit terjal itu setiap saat selama bertahun-tahun untuk menyepi atau berkhalwat di tempat tersebut sekaligus menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Juga bagaimana beliau berjalan kaki dari rumahnya menuju Gua Hira. Sungguh, perjuangan yang sangat berat dengan langkah dan tutunan dari Allah SWT.
Di gua Hira pula, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Wahyu itu terkandung dalam surat Al Alaq sebanyak lima ayat. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS Al Alaq: 1-5). (...bersambung)
Jabal Nur, tinggi menjulang
Kaki bukit dilihat dari atas Jabal Nur
Jalan berkelok khas Jabal Nur
Jam raksasa di gedung King Abdul Aziz Endowment terlihat dari puncak Jabal Nur
Jamaah berebut masuk ke GUA HIRA
Semangat Nenek tua (memakai tongkat) ziarah ke GUA HIRA
Rehat sejenak melepas lelah di puncak Jabal Nur
Foto bersama berlatar Jabal Nur
6.2.12
Catatan Perjalanan Ibadah Umrah ke Baitullah (13)
Napak Tilas ke Arafah, Muzdalifah, Mina dan Jamarat
Oleh: Pramana Asmadiredja
Setelah dirasa cukup menikmati keindahan Jabal Rahmah, selanjutnya rombongan diinformasikan oleh tour guide GSM perwakilan Arab Saudi, ustad Asep tentang rute ibadah Mekkah-Arafah dengan disediakannya kereta commuter oleh pemerintah Arab Saudi yang beroperasi hanya di musim haji. Diinformasikan juga bahwa di Arafah ada mesjid yang cukup besar bernama masjid Namiroh. Mesjid ini hanya ramai setahun sekali saja, yaitu di musin haji.
Sedangkan di hari biasa jarang sekali peziarah yang sengaja berkunjung ke masjid ini. Selanjutnya bus berkeliling melewati Muzdalifah, dari kejauhan terlihat tenda-tenda kecil berwarna putih. “Di sinilah jamaah haji bermalam dan mengambil batu kecil untuk melontar jumroh keesokan harinya di Mina,” cerita ustad Asep kepada rombongan GSM bus 2.
Bus pun terus melaju melewati terowongan dari Muzdalifah ke Mina bernama Muhaisyim yang sudah dibuat menjadi dua. Hebatnya, terowongan ini menembus gunung batu. Dulu saat ada tragedi Mina yang menewaskan banyak jamaah, termasuk jamaah dari Indonesia, terowongan ini cuma satu. Karena itu pemerintah Arab Saudi menambahnya sehingga tidak ada persilangan. Setelah terowongan ditambah, tidak ada lagi kecelakaan yang terjadi menimpa jamaah.
Kami juga melihat dari kejauhan, tempat melempar jumroh atau Jamarat. “Ada 3 jumroh yang harus dilempar oleh jamaah haji, yaitu jumroh ula (jumroh pertama), jumroh wustho (jumroh tengah), dan jumroh aqabah. Saat ini, tempat melempar jumroh sudah terdiri dari tiga lantai sehingga jamaah bisa memilih mana yang paling nyaman,” jelas ustad Asep panjang lebar kepada rombongan umrah.
Namun sayang, kami semua tidak sempat mendekati lokasi, dan hanya melihat dari jalan raya. Terlihat juga lokasi jumroh sudah seperti jalan layang. Setelah selesai menapaki rute haji, bus 1 dan 2 yang membawa kami langsung kembali ke Mekkah.
Dalam perjalanan mendekati kota Mekkah, ustadz Asep juga menjelaskan kalau di kanan bus ada gua Hira, tempat Nabi SAW menerima wahyu pertama kali. Gua Hira ini tingginya lebih dari 200 meter. (…bersambung)
Oleh: Pramana Asmadiredja
Setelah dirasa cukup menikmati keindahan Jabal Rahmah, selanjutnya rombongan diinformasikan oleh tour guide GSM perwakilan Arab Saudi, ustad Asep tentang rute ibadah Mekkah-Arafah dengan disediakannya kereta commuter oleh pemerintah Arab Saudi yang beroperasi hanya di musim haji. Diinformasikan juga bahwa di Arafah ada mesjid yang cukup besar bernama masjid Namiroh. Mesjid ini hanya ramai setahun sekali saja, yaitu di musin haji.
Sedangkan di hari biasa jarang sekali peziarah yang sengaja berkunjung ke masjid ini. Selanjutnya bus berkeliling melewati Muzdalifah, dari kejauhan terlihat tenda-tenda kecil berwarna putih. “Di sinilah jamaah haji bermalam dan mengambil batu kecil untuk melontar jumroh keesokan harinya di Mina,” cerita ustad Asep kepada rombongan GSM bus 2.
Bus pun terus melaju melewati terowongan dari Muzdalifah ke Mina bernama Muhaisyim yang sudah dibuat menjadi dua. Hebatnya, terowongan ini menembus gunung batu. Dulu saat ada tragedi Mina yang menewaskan banyak jamaah, termasuk jamaah dari Indonesia, terowongan ini cuma satu. Karena itu pemerintah Arab Saudi menambahnya sehingga tidak ada persilangan. Setelah terowongan ditambah, tidak ada lagi kecelakaan yang terjadi menimpa jamaah.
Kami juga melihat dari kejauhan, tempat melempar jumroh atau Jamarat. “Ada 3 jumroh yang harus dilempar oleh jamaah haji, yaitu jumroh ula (jumroh pertama), jumroh wustho (jumroh tengah), dan jumroh aqabah. Saat ini, tempat melempar jumroh sudah terdiri dari tiga lantai sehingga jamaah bisa memilih mana yang paling nyaman,” jelas ustad Asep panjang lebar kepada rombongan umrah.
Namun sayang, kami semua tidak sempat mendekati lokasi, dan hanya melihat dari jalan raya. Terlihat juga lokasi jumroh sudah seperti jalan layang. Setelah selesai menapaki rute haji, bus 1 dan 2 yang membawa kami langsung kembali ke Mekkah.
Dalam perjalanan mendekati kota Mekkah, ustadz Asep juga menjelaskan kalau di kanan bus ada gua Hira, tempat Nabi SAW menerima wahyu pertama kali. Gua Hira ini tingginya lebih dari 200 meter. (…bersambung)
6.2.12
Catatan Perjalanan Ibadah Umrah ke Baitullah (12)
Oleh Pramana Asmadiredja
Jabal Rahmah, Saksi Abadi Cinta Adam dan Hawa
Bukit berbatu di bagian timur Padang Arafah kota Mekkah Arab Saudi ini, konon menjadi saksi abadi sejarah pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa, setelah ratusan tahun berpisah karena diturunkan dari surga.
Begitu informasi yang kami dapatkan dari pembimbing ibadah Umrah, ustadz Asep dan Ustadz Zubair Suryadi dari Travel Gema Shafa Marwa (GSM) perwakilan Arab Saudi, hari Rabu, 27 April 2011.
Jabal berarti sebuah bukit atau gunung, sementara Rahmah adalah kasih sayang. Sesuai dengan namanya, bukit ini diyakini sebagai pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari syurga oleh Allah selama bertahun-tahun setelah melakukan kesalahan dengan memakan buah khuldi yang terlarang.
Untuk menuju puncak tempat ini, bisa ditempuh sekitar 15 menit dari dasar bukit. Bukit batu ini berada pada ketinggian kurang lebih enam puluh lima meter yang puncaknya menjulang.
Di bukit ini terdapat sebuah monumen yang terbuat dari beton persegi empat dengan lebar kurang lebih 1,8 meter dan tingginya 8 meter.
Di puncak bukit batu ini dibangun tugu guna mengenang peristiwa penting yakni pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah turun dari surga dan dipisahkan Allah SWT sekitar 100 tahun (ada yang mengatakan 200 tahun). Peristiwa pertemuan kedua nenek moyang manusia itu diabadikan setiap tahun, ketika jamaah Haji atau Umrah melakukan ziarah.
Jabal Rahmah juga diyakini sebagai tempat mustajab dan makbul bagi orang yang memanjatkan doa karena merupakan bagian dari Padang Arafah. Banyak jamaah Haji dan Umrah yang mendoakan anaknya atau para lajang yang meminta agar cepat mendapatkan jodoh.
Bagi orang yang sudah memiliki pasangan hidup berharap dapat mengarungi rumah tangga hingga ajal memisahkan mereka seperti kisah Nabi Adam dan Hawa.
Saya bersama rombongan juga mencoba mendaki Jabal Rahmah yang ternyata juga sudah banyak yang tiba diatas.
Untuk bisa mencapai tugu di Jabal Rahmah, harus naik ke puncak dengan cara menaiki tangga sedikit melingkar yang cukup panjang.
Tangga tersebut sengaja dibuat untuk memudahkan jamaah naik menuju tugu yang berbentuk kerucut dengan cat warna hitam di bagian bawah dan warna putih di bagian atas. (...bersambung)
Jabal Rahmah, Saksi Abadi Cinta Adam dan Hawa
Bukit berbatu di bagian timur Padang Arafah kota Mekkah Arab Saudi ini, konon menjadi saksi abadi sejarah pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa, setelah ratusan tahun berpisah karena diturunkan dari surga.
Begitu informasi yang kami dapatkan dari pembimbing ibadah Umrah, ustadz Asep dan Ustadz Zubair Suryadi dari Travel Gema Shafa Marwa (GSM) perwakilan Arab Saudi, hari Rabu, 27 April 2011.
Jabal berarti sebuah bukit atau gunung, sementara Rahmah adalah kasih sayang. Sesuai dengan namanya, bukit ini diyakini sebagai pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari syurga oleh Allah selama bertahun-tahun setelah melakukan kesalahan dengan memakan buah khuldi yang terlarang.
Untuk menuju puncak tempat ini, bisa ditempuh sekitar 15 menit dari dasar bukit. Bukit batu ini berada pada ketinggian kurang lebih enam puluh lima meter yang puncaknya menjulang.
Di bukit ini terdapat sebuah monumen yang terbuat dari beton persegi empat dengan lebar kurang lebih 1,8 meter dan tingginya 8 meter.
Di puncak bukit batu ini dibangun tugu guna mengenang peristiwa penting yakni pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah turun dari surga dan dipisahkan Allah SWT sekitar 100 tahun (ada yang mengatakan 200 tahun). Peristiwa pertemuan kedua nenek moyang manusia itu diabadikan setiap tahun, ketika jamaah Haji atau Umrah melakukan ziarah.
Jabal Rahmah juga diyakini sebagai tempat mustajab dan makbul bagi orang yang memanjatkan doa karena merupakan bagian dari Padang Arafah. Banyak jamaah Haji dan Umrah yang mendoakan anaknya atau para lajang yang meminta agar cepat mendapatkan jodoh.
Bagi orang yang sudah memiliki pasangan hidup berharap dapat mengarungi rumah tangga hingga ajal memisahkan mereka seperti kisah Nabi Adam dan Hawa.
Saya bersama rombongan juga mencoba mendaki Jabal Rahmah yang ternyata juga sudah banyak yang tiba diatas.
Untuk bisa mencapai tugu di Jabal Rahmah, harus naik ke puncak dengan cara menaiki tangga sedikit melingkar yang cukup panjang.
Tangga tersebut sengaja dibuat untuk memudahkan jamaah naik menuju tugu yang berbentuk kerucut dengan cat warna hitam di bagian bawah dan warna putih di bagian atas. (...bersambung)
5.2.12
Catatan Perjalanan Ibadah Umrah ke Baitullah (11)
Minggu, 05 Februari 2012
Oleh Pramana Asmadiredja
Ya Allah, Panggil Aku Kembali ke Baitullah
Baitullah atau Ka’bah yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Islam seluruh penjuru negeri tak terkecuali negeri tercinta, Indonesia.
Tak jarang gumpalan panas yang mencair dan mengucur deras dari mata ini pun menetes saat melihat bangunan kubus hitam yang menjadi pusat arah salat jutaan muslim di dunia.
Daya magis Kota Makkah dengan segala nilai sejarahnya tidak bisa dilupakan umat Islam di seluruh dunia. Adanya Ka’bah, Gua Hira, Gua Tsur, rumah Nabi serta lokasi puncak ritual ibadah haji di Arafah, Mina dan Muzdalifah serta lokasi-lokasi lainnya menjadi daya tarik tersendiri untuk dapat dikunjungi.
Saya pun tidak akan melupakan Ka’bah yang begitu suci dan sakral. Satu persatu air mata ini pun menetes ketika pertama kali datang ke Masjidil Haram, pada hari Sabtu malam, 23 April 2011. Salat di Masjidil Haram, pahalanya akan dilipatgandakan sebanyak 100 ribu kali.
Saya datang bersama rombongan dari Travel Gema Shafa Marwa (GSM) Jakarta sebanyak 75-77 jamaah, merasa kangen dengan ka’bah. Perasaan ini selalu ingin kembali ke Ka’bah karena selalu ingat kenangan berhadapan langsung dengan Ka’bah. Rasa kangen ini masih terus ada hingga kini dan akan terus ada di dalam hati.
Perjalanan ibadah Umrah itu merupakan pengalaman spiritual saya yang tidak akan pernah terlupakan selama hidup. Walaupun saya baru pergi menunaikan umrah sekali. Tetapi, hati ini tak akan pernah terlupakan dengan Baitullah ini.
Mungkin ini doa dari almarhum Bapak saya, yang telah pergi haji pada tahun 1985 yang kata beliau saat itu juga mendoakan anak keturunannya untuk bisa pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Umrah ataupun Haji.
“Labaik allahumma labaik, labaik laa syarikalak, innal hamda, wani’mata laka wal mulk, la syarikalak”. Semoga Allah SWT memperkenankan aku kembali melihat dan beribadah di depan Ka’bah, baik dalam ibadah Umrah ataupun ibadah Haji. Amin Ya Rabbal Alamin. (...bersambung)
Ya Allah, panggil kami kembali ke Baitullah
Ya Allah, panggil kami kembali ke Baitullah
Ya Allah, Panggil Aku Kembali ke Baitullah
Baitullah atau Ka’bah yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Islam seluruh penjuru negeri tak terkecuali negeri tercinta, Indonesia.
Tak jarang gumpalan panas yang mencair dan mengucur deras dari mata ini pun menetes saat melihat bangunan kubus hitam yang menjadi pusat arah salat jutaan muslim di dunia.
Daya magis Kota Makkah dengan segala nilai sejarahnya tidak bisa dilupakan umat Islam di seluruh dunia. Adanya Ka’bah, Gua Hira, Gua Tsur, rumah Nabi serta lokasi puncak ritual ibadah haji di Arafah, Mina dan Muzdalifah serta lokasi-lokasi lainnya menjadi daya tarik tersendiri untuk dapat dikunjungi.
Saya pun tidak akan melupakan Ka’bah yang begitu suci dan sakral. Satu persatu air mata ini pun menetes ketika pertama kali datang ke Masjidil Haram, pada hari Sabtu malam, 23 April 2011. Salat di Masjidil Haram, pahalanya akan dilipatgandakan sebanyak 100 ribu kali.
Saya datang bersama rombongan dari Travel Gema Shafa Marwa (GSM) Jakarta sebanyak 75-77 jamaah, merasa kangen dengan ka’bah. Perasaan ini selalu ingin kembali ke Ka’bah karena selalu ingat kenangan berhadapan langsung dengan Ka’bah. Rasa kangen ini masih terus ada hingga kini dan akan terus ada di dalam hati.
Perjalanan ibadah Umrah itu merupakan pengalaman spiritual saya yang tidak akan pernah terlupakan selama hidup. Walaupun saya baru pergi menunaikan umrah sekali. Tetapi, hati ini tak akan pernah terlupakan dengan Baitullah ini.
Mungkin ini doa dari almarhum Bapak saya, yang telah pergi haji pada tahun 1985 yang kata beliau saat itu juga mendoakan anak keturunannya untuk bisa pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Umrah ataupun Haji.
“Labaik allahumma labaik, labaik laa syarikalak, innal hamda, wani’mata laka wal mulk, la syarikalak”. Semoga Allah SWT memperkenankan aku kembali melihat dan beribadah di depan Ka’bah, baik dalam ibadah Umrah ataupun ibadah Haji. Amin Ya Rabbal Alamin. (...bersambung)
Ya Allah, panggil kami kembali ke Baitullah
Ya Allah, panggil kami kembali ke Baitullah
Langganan:
Postingan (Atom)