Berita Terkini :

BERITA TERBARU

Wanita Makhluk Penyayang, Sayangi Generasi Rabbani

Rabu, 13 Mei 2015

Siang hari saat saya sedang menanti dimulainya latihan teater. Saya duduk berteduh di sebuah bangku, di bawah pohon yang rindang. Hanya hitungan hari ramadhan akan tiba dan ini adalah hari terakhir latihan teater saya. Sembari termenung, saya mengamati pohon yang menaungi saya dari terik matahari. 

Pohonnya rindang sekali. Daun-daunnya hijau segar. Fresh rasanya mata memandang. Hmmm... mengapa daun berwarna hijau ya? Mengapa tidak hitam,orange, merah, kuning atau biru? Atau pink mungkin lebih imut? Kenapa hijau yang dipilih untuk warna daun? Mengapa?

Allah SWT memang maha adil. Rupanya warna hijau memiliki senyawa yang dapat menyerap dan memantulkan sinar matahari secara transparan. Sehingga sinar matahari dapat tembus ke bagian bawah. 

Hewan dan tumbuhan yang lebih kecil seperti semut dan lumut pun dapat merasakan hangatnya matahari. Warna hijau juga sangat baik untuk mata. Coba bayangkan, bagaimana jadinya jika seluruh daun-daun di muka bumi berwarnaorange, merah, kuning, biru atau pink. Hitam apalagi. Subhanallah.

Semua yang diciptakan Allah SWT di muka bumi ini tidak sia-sia. Semua diciptakan untuk saling melengkapi. Ada kutub positif tentu ada kutub negatif. Seperti halnya warna daun yang berwarna hijau, Allah menciptakan wanita untuk melengkapi pria di muka bumi ini. Wanita dengan sifatnya yang dapat menyerap dan memantulkan hangatnya kasih sayang.

Namun dimana kasih sayang dan cinta itu? Sebutlah Sumirah, bukan nama sebenarnya, seorang ibu rumah tangga yang khilaf telah membunuh 3 orang anaknya dan mati bunuh diri karena rasa takut. Takut akan kekurangan uang untuk dapat menghidupi dan membesarkan anak-anaknya. Lalu ada suketi, yang juga bukan nama yang sebenarnya, seorang pekerja seks komersil, yang mengambil jalan pintas, mencari nafkah dengan tubuhnya. 

Suketi takut. Takut tidak bisa survive pada kesulitan ekonomi, takut karena tidak ada cinta dalam hidupnya. Kemudian ada juga sulastri, lagi-lagi bukan nama yang sebenarnya, seorang anak remaja yang over dosis karena narkoba. Sulastri takut, takut karena tidak ada rasa aman dari orangtuanya. Sehingga dia mencari kasih sayang dari pria hidung belang. Ia mencari kebahagian semu. Akibatnya dia over dosis dan hamil di luar nikah.

Masih banyak kisah lain di luar sana yang serupa. Sungguh hal-hal demikian bukan fitrah seorang wanita. Wahai wanita, tak sadarkah kalian dalam perut kalian ada rahim? Rahim artinya penyayang, salah satu sifat Allah SWT. Maka sudah fitrahnya wanita sebagai makhluk penyayang. Subhanallah. Sedemikian rupa Allah SWT meninggikan derajat wanita. Allah SWT juga memberi satu bab khusus untuk membahas wanita dalam al-qur'an, dalam surah An-nisa. Nabi Muhammad pun menyebut hingga tiga kali ketika ditanya siapa yang harus dihormati? Ibu...ibu...ibu... Wahai wanita, ada apa gerangan yang merisaukan hatimu?

Saat peradaban mulai renta seperti sekarang, peran wanita dituntut untuk mencetak generasi yang memiliki moral baik. Ada pepatah yang mengatakan: “Jika ingin lihat generasi suatu negara, lihatlah dari kaum wanitanya.” Berapa persen wanita yang benar-benar mempersiapkan dirinya untuk melahirkan seorang manusia ke muka bumi ini? Mulailah dari hal-hal yang kecil. Seperti memberi gizi yang cukup bagi tubuh agar rahim untuk “rumah sementara” bagi janin pun berkualitas baik. 

Saat kehamilan memasuki lima bulan, rajin untuk memberi rangsangan. Rangsangan yang diberikan antara lain memperdengarkan lantunan ayat al-qur.an pada janin yang dikandung, lalu ada rangsang sentuhan, rangsang cahaya. Rangsangan-rangsangan tersebut dilakukan agar janin yang dikandung, pertumbuhannya lebih optimal. Saat anak sudah dilahirkan, didiklah dengan sabar dan ikhlas. Memiliki seorang anak adalah suatu peristiwa yang bukan saja menyenangkan bagi seorang wanita di dunia ini, melainkan juga merupakan peristiwa yang pasti akan merubah keadaan bagi wanita dan orang-orang di sekitar mereka yang mengalaminya. Nama lainnya adalah keluarga.

Keluarga bagi seorang anak merupakan lembaga pendidikan non formal pertama, di mana mereka hidup, berkembang, dan matang. Lembaga pendidikan tertinggi. Di dalam sebuah keluarga, seorang anak pertama kali diajarkan pada pendidikan. Dari pendidikan dalam keluarga tersebut anak mendapatkan pengalaman, kebiasaan, keterampilan berbagai sikap dan bermacam-macam ilmu pengetahuan. Pada keluarga inilah anak mendapat asuhan dari orang tua menuju ke arah perkembangannya. Tingkat pendidikan orangtua akan berpengaruh pada pola pikir dan orientasi pendidikan anak. Semakin tinggi pendidikan orangtua akan melengkapi pola pikir dalam mendidik anaknya.

Kehangatan kasih sayang di dalam keluarga diharapkan dapat mewujudkan suasana nyaman bagi anak. Menjadi seorang sahabat bagi anak kita tanpa menghilangkan wibawa sebagai orangtua, memberi teladan yang baik, sehingga anak pun tidak canggung dan sungkan untuk mencurahkan isi hatinya kepada kita, namun tetap menghormati kita sebagai orang tua. Disinilah peran wanita sebagai ibu diharapkan aktif terhadap perkembangan anak-anaknya, demi mencetak generasi yang unggul, generasi robbani.

Bangkitlah wanita. Banyak pekerjaan rumah yang masih harus dibenahi. Jangan takut. Terus perbaiki diri. Perkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Terus berjuang demi generasi Islam yang lebih baik. Wanita tidak pernah dijajah siapapun sejak dulu. Kepakkan sayap penyayangmu di muka bumi ini. Mekarkan cinta dengan keajaiban sentuhanmu. (Dewi Kabisat Andriyani)



Share this Article on :

1 komentar:

Daniel Hasmy mengatakan...

Masya Allah, begitu mulianya wanita..

Posting Komentar

 

© Copyright PKS Pesanggrahan 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.