Berita Terkini :

BERITA TERBARU

Ada Ghirah Bersama Shirah

Senin, 25 Mei 2015

Mengapa kita mempelajari shirah (sejarah) para Rasul?
Karena dari situlah kita dapat mengetahui bagaimana perjuangan mereka
di masa lampau.
Setiap tetes keringat dan darah yang mengalir dari tubuh mereka demi
menegakkan kalimat Allah.
Melalui shirah kita juga dapat mengetahui bahwa Islam pernah berjaya di masanya.

Bagaimana Rasulullah Saw melakukan dakwah, mulai dari dakwah
syakhsiyah islamiyah yang beliau lakukan di rumah sahabat Arqam bin
Abil Arqam ra. Sampai dakwah sya'biyah berupa pidato yang dilakukan di
pasar, bukit dan pusat keramaian. Melakukannya secara siriyah hingga
masuk pada fase jahriyah.

Semua itu beliau lakukan karena rasa cinta yang sangat mendalam kepada
ummatnya. Bahkan di ujung hayatnya pun yang terucap dari lisan beliau
adalah kata-kata, "ummatku, ummatku.."

******

Sejarah akan selalu berulang. Namun waktu, pelaku serta tempat
peristiwanya yang berganti.

Demikian halnya dengan dakwah. Hari ini kita dihadapkan pada kondisi
yang tidak berbeda di masa lampau.
"Neo jahiliyah" adalah potret kondisi masyarakat saat ini.

Meminjam istilah Bang Fahri Hamzah bahwa saat ini kita berada dalam
kondisi "Over Connected Community". Setiap orang saling terhubung satu
sama lainnya melalui kecanggihan teknologi.

Tantangan sejatinya akan selalu hadir menjadi pemanis bagi dakwah itu
sendiri. Apa yang dapat kita tiru dari aktifitas dakwah yang dilakukan
para Rasul dan pengikutnya?

Ghirah. Ya, ghirah yang disepakati oleh sebagian besar ahli bahasa yang bermakna semangat dalam memperjuangkan agama. Itulah yang dapat kita duplikasi.

Nabi Nuh As yang berdakwah siang dan malam sampai akhir hayatnya.
Meski hanya sedikit yang menerima seruannya namun beliau tiada pernah
mengeluh.

Rasulullah Muhammad Saw yang sampai ditimpuki oleh penduduk kota
Thaif. Justru mendoakan mereka agar diberikan petunjuk Allah.

Kita, yang hidup dalam situasi kondusif. Penuh dengan kemudahan
fasilitas serta akses komunikasi dan transportasi. Apakah juga
memiliki ghirah yang sama dengan "beliau-beliau" pendahulu kita?

Sejenak tengoklah ikhwah di Mesir. Negerinya para Nabi. Saat ini yang
mereka lakukan adalah berusaha survive dari kejaran kaki tangan rezim
Asisi. Banyak ikhwah yang ditangkap bahkan disiksa. Mari jadikan hal
tersebut sebagai pelajaran berharga untuk kita semua.

Wa laysa fid dunya jihaadun laa tadhhiyyatu ma'ahu
Dan tidaklah sebuah perjuangan melainkan terdapat pengorbanan di dalamnya.
Bacalah shirah, semoga kau temukan ghirah. (solichin)
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright PKS Pesanggrahan 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.