Berita Terkini :

BERITA TERBARU

Rumahtanggaku Adalah Surgaku

Jumat, 27 Januari 2012

Oleh Pramana Asmadiredja


Terkadang, dalam mengarungi bahtera hidup rumah tangga, kita merasakan kebahagiaan namun juga terkadang begitu membosankan. Sama halnya seperti air laut, ada saatnya pasang dan ada saatnya surut. Ada masa tenangnya dan ada masa gelisah diterjang ombak yang kuat menghempas pantai.

Bagaimana pun besarnya sebuah cinta yang dibina serta eratnya kasih sayang yang dijalin serta dipupuk. Seperti halnya juga hubungan diantara lidah dan gigi dalam mencerna makanan, walau terjaga dengan rapat sekalipun, namun sesekali tergigit juga lidah kita.

Pertengkaran-pertengkaran kecil atau ada rasa tidak puas hati di antara suami isteri memang perkara yang mudah sekali terjadi. Namun, jika hal itu dibiarkan berlarut panjang dan tidak dibendung dengan segera, maka pertikaian kecil itu akan menjadi besar dan akhirnya mengakibatkan kehancuran pada mahligai rumahtangga.

Seperti ombak kecil tadi, ia hanya akan mengakibatkan kapal terombang-ambing saja. Namun jika ombak sudah besar, bisa saja kapal akan ditelannya dan mahligai rumahtangga akan hancur. Pertengkaran kecil atau rasa tidak puas hati jangan dibiarkan berlarut-larut. Tetapi sebaliknya, hendaklah segera dibendung dan diperbaiki oleh kedua belah pihak, suami-istrei, agar jangan sampai penyakit yang sudah parah baru dicarikan obatnya.

Masalah awal yang perlu dilakukan oleh kedua belah pihak adalah dengan mengoreksi diri sendiri (bermuhasabah). Janganlah ego diri yang ditonjolkan dan kenapa masalah itu terjadi? Coba renungi dan kajilah, bisa jadi salah seorang atau keduanya punya salah.

Sebagai contoh kasus yang sering dialami, saat suami pulang ke rumah untuk bertemu dengan isteri dan anaknya. Tentu saat pulang ke rumah dalam keadaan letih dan lesu setelah seharian mencari nafkah atau berdakwah di tengah masyarakat. Namun, tanpa diduga atau disadari tiba-tiba muncul rasa hendak marah pada isteri yang mungkin tidak sempat berhias atau melihat anak-anak yang tidak terurus.

Lalu, saat sang isteri melihat suami yang pulang ke rumah dalam keadaan marah-marah, ia pun merasa seolah-olah suaminya sudah tidak menyukai dan menyayanginya lagi. Maka akan timbul rasa ‘hambar’ dan dinginnya mahligai rumahtangga yang telah dibina sekian tahun.

Lalu, sang isteri, jika merasa dirinya tidak dihargai lagi, mulailah ia memendam rasa (tidak semua kasus semuanya seperti ini). Masalah yang kecil itu dirasakan cukup berat terlebih lagi bila berhadapan dengan kenakalan anak-anak dan pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. Pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan yang itu-itu saja. Pikirannya akan bertambah terhimpit dan jiwanya makin menderita dan tertekan.

Lantaran terlalu lama memendam rasa tertekan dan sakit hatinya, akhirnya pecah juga segala isi hati yang dipendam selama ini. Bagi seorang isteri yang lemah lembut mungkin dilepaskan geramnya dengan kata-kata.

Namun jika seorang istri terlihat keras hatinya, maka akan lebih dahsyat lagi kemarahan yang ditujukan pada suaminya. Bisa jadi keluar dengan kata-kata yang pedas dan kasar. Yang penting bagi sang istri hatinya puas, puas dan puas karena telah melampiaskan kepada sang suami.

Dan bagi suami yang tidak mau masalah itu berkepanjangan, bisa jadi ia akan mengambil sikap untuk segera mengalah. Namun, sesungguhnya hatinya yang terdalam sudah terluka dibuat begitu. Begitu pula sebaliknya.

Kenapa harus tersinggung pada suami atau istri, walaupun mungkin benar jika suami atau istri yang bersalah? Setiap suami atau isteri harus memahami bahwa setiap apa yang berlaku semuanya dalam perancanaan dan kuasa Allah SWT walaupun perkara itu suka atau tidak kita suka.

Mungkin dosa yang dilakukan secara sadar atau tidak itulah yang menyebabkan sengketa mahligai rumahtangga itu terjadi. Allah SWT hukum kita melalui tindakan suami yang menyinggung hati sang istri ataupun sebaliknya.

Allah SWT datangkan masalah itu, sebenarnya sebagai penghapusan dosa yang telah kita lakukan. Hukuman dari Allah SWT ini adalah sebagai tanda kasih sayang dari-Nya supaya di akhirat kelak kita tidak akan dihukum lagi.

Untuk itu, kita selalu beristighfar, bertaubat dan introspeksi diri kita dari terjebak dengan dosa. Rasulullah SAW seorang yang maksum lahir dan batin, terpelihara dari dosa, namun selalu senantiasa bertaubat sehari semalam sebanyak 100 kali. Apalagi kita yang tidak dijamin masuk surge oleh Allah SWT, harusnya lebih dari itu.

Seandainya kedua pasangan, suami-istri telah bersalah, maka segeralah mencari jalan keluar dengan meminta maaf kepada suami atau istri dan memberi maaf pada suami atau istri akan hal itu. Lebih-lebih lagi orang yang banyak jasa pada kita, kenapa harus kita menyusahkannya atau berbuat aniaya? Carilah jalan agar suami atau istri kembali ridha pada kita dengan berbuat apa saja yang disukai dan dicintainya.

Saat itulah pertikaian kecil dalam rumahtangga akan selalu membawa kita kepada kemesraan hubungan suami isteri yang lebih tinggi. Setelah diuji, Allah SWT datangkan pula nikmat dalam rumahtangga. Setelah ujian berlalu akan datanglah bahagia. Setelah puas menangis karena menanggung luka di hati, akan datang pula kasih sayang, perhatian dan dari suami tercinta dan sebaliknya.

Rumahtangga akan kembali tenang dan bahagia. Dan ketika itu jadilah rumahtangga sebagaimana yang dikehendaki oleh Rasulullah SAW yaitu “Rumahtanggaku adalah Surgaku”. Baiti Jannati, Rumahku Surgaku. Wallahu’alam


Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright PKS Pesanggrahan 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.