Berita Terkini :

BERITA TERBARU

Sudahkan Kita Tarbiyah? Refleksi Seorang Mutarabbi

Kamis, 12 Januari 2012

Sebuah pertanyaan, “Sudahkah kita tarbiyah?” Ini bisa diartikan dengan berbagai makna. Ia bisa bermakna retoris, namun bisa juga bermakna renungan. Jika bermakna retoris, maka pertanyaannya mungkin akan berbunyi, “Sudahkah kita ikut tarbiyah?”

Lalu mungkin kita akan menjawab, “Sudah.” Karena kita merasa sudah ikut tarbiyah dengan perangkat atau sarana yang ada. Pertemuan pekanan (liqo usbu’iyyah ), program harian (baromij yaumiyah), program pekanan (baromij usbu’iyyah), dan lainnya sudah kita ikuti. Maka tidak salah juga jika kita mengklaim bahwa sudah ‘ikut tarbiyah’.

Tarbiyah bisa saja telah akrab dengan kehidupan kita. Bisa pula, tarbiyah telah menjadi bagian penting dalam hidup kita. Atau bahkan, ia telah memakan waktu harian kita. Mungkin, anda berbisnis di lingkungan tarbiyah. Berolahraga pun di lingkungan tarbiyah. Mungkin, anda berkeluarga di keluarga tarbiyah. Mungkin, anda memimpin di lembaga-lembaga tarbiyah. Mungkin saja, kita berpengaruh karena kesempatan yang diberikan tarbiyah. Tetapi, apakah sesungguhnya kita telah tertarbiyah?

Dalam buku yang ditulis Eko Novianto dengan kecerdasannya menyajikan sekitar 16 tulisan yang semuanya terangkum dalam satu judul, “Sudahkah Kita Tarbiyah?”. Dengan pengalamannya malang-melintang di dunia pergerakan, Eko Novianto menyajikan hampir setiap tulisan dengan kasus-kasus yang mengena dan memang terjadi di lapangan.

Selain mengajak kita untuk merenung tentang ‘hasil’ tarbiyah yang telah kita lakukan, tulisan dalam buku ini mengajari kita untuk lebih arif dalam memaknai tarbiyah. Karena keniscayaan tarbiyah itu dilakukan secara berjamaah, dan dalam jamaah itu niscaya akan ada qiyadah dan jundiyah, pemimpin dan yang dipimpin. Maka buku ini pun mengajari kita untuk lebih dewasa dalam menyikapi hubungan keduanya.

Baik ketika dalam posisi menjadi qiyadah, maupun ketika menjadi seorang jundi. Baik hubungan antara satu ikhwah dengan ikhwah lain, maupun ikhwah dengan qiyadahnya. Kita diajari bagaimana bersikap menghadapi berbagai masalah, menghadapi ikhwah lain yang berbuat salah, menghadapi hubungan dengan qiyadah, juga dengan murobbi.

Dalam buku tersebut, Eko Novianto mencoba menawarkan sebuah alat bantu untuk menjawab sudahkah kita tarbiyah?

Pertama, kita sudah tarbiyah jika kita terbuka terhadap perubahan.Kita telah tertarbiyah ketika kita mengembangkan sikap terbuka tehadap perubahan. Hasil akhir dari semua proses pembelajaran adalah perubahan. Efektifitas tarbiyah patut kita pertanyakan ketika kita menganggap diri kita telah purna atau setidaknya merasakan keletihan dalam berubah.

Dalam beberapa kasus, insan tarbiyah ‘terlanjur’ besar dalam kondisi tertentu dan sulit berubah ketika kondisi telah berubah. Perasaan telah menjadi sesuatu yang besar itulah yang membunuh tujuan akhir dari tarbiyah.

Kedua, kita sudah tarbiyah jika mampu bersikap tegas dan menghindarkan diri dari sikap agresif. Menjadi insan yang tegas tidak harus menumbuhkan agresivitas. Menolak praktik syirik, menolak kemaksiatan, mempertahankan strategi dakwah, menjelaskan tujuan dakwah, dan menegakkan disiplin memang membutuhkan ketegasan tapi tidak membutuhkan agresivitas. Oleh karena itu, produk tarbiyah adalah insan yang tegas dalam prinsip, memiliki determinasi yang tinggi, sabar dan ulet serta tidak dapat diprovokasi untuk melakukan tindakan yang kontraproduktif.

Ketiga, kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang proaktif. Kita tarbiyah ketika proaktif dalam hal-hal yang bermanfaat. Penanggung jawab proses pemberdayaan adalah pendidik dan memang tidak dapat digeser kepada pihak lain. Tetapi, pernyataan tersebut tidak dapat diartikan hujah bagi sikap pasif seorang binaan (mad’u). Nabi Muhammad SAW berpesan, “Bersunguh-sungguhlah kamu dalam hal yang memberikan manfaat dan janganlah kamu lemah/mudah menyerah”.

Keempat, kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang memiliki sikap mawas diri. Proses tarbiyah dengan segenap sarananya harus sangat dekat dengan pelajaran mawas diri dan tidak mudah menyalahkan orang lain serta memiliki kecukupan sarana latihan untuk menekan sikap takaburnya terhadap orang lain.

Karena, komunitas tarbiyah adalah komunitas manusia dengan segenap keunggulan dan sekaligus sisi kelemahannya. Interaksi kemanusiaan ini memang potensial menonjolkan kelemahan orang lain dan menyembunyikan kelemahan diri.

Kelima, kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang mandiri. Kita tarbiyah ketika menjadi insan yang mandiri dan merdeka, bukan manusia yang tergantung pada orang lain.

Keenam, kita sudah tarbiyah jika kita adalah sosok yang berperasaan, tetapi tidak emosional. Kita tarbiyah ketika tarbiyah menjadikan hati dan perasaan kita hidup tanpa terjebak dalam sikap emosional. Kita juga siap menghadapi ujian dan tidak cengeng menghadapi ujian serta tidak mudah terpukul oleh sebuah kegagalan.

Ketujuh, kita sudah tarbiyah jika jika sanggup belajar dari kesalahan.Sebagai manusia, manusia tertarbiyah tentu tidak terbebas dari kesalahan. Ia tetaplah manusia yang mungkin salah. Justru penyikapan seseorang terhadap kesalahan yang dilakukannya itulah yang menjadi indikator apakah ia tarbiyah atau tidak. Seseorang yang tertarbiyah adalah seseorang yang menjadikan kesalahan yang dilakukannya sebagai salah satu cara terbaik untuk belajar.

Kedelapan, kita sudah tarbiyah jika hidup di masa sekarang bersikap realistis dan berpikir relatif. Kita tarbiyah ketika tidak menjadi bagian dari masa lalu, mampu bersikap realistis, berpikir secara relatif dan tidak mutlak-mutlakan serta memiliki kepercayaan yang tinggi. Yang dibutuhkan dunia adalah pribadi yang mampu berpikir realistis dan memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan konsep atau idealismenya di dunia ini.

Besar harapan, semoga dengan tarbiyah yang telah dan sedang dijalani, kita memiliki kesempatan untuk berubah serta termotivasi terus untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Wallahu’alam


Diringkas oleh: Roza Dwi Marina
Dari buku: “Sudahkan Kita Tarbiyah? Refleksi Seorang Mutarabbi” karya: Eko Novianto (Era Intermedia, 2007)


Share this Article on :

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Kayaknya ini Roza DM kawanku dulu di Undip bukan yah >Asih

PKS Pesanggrahan mengatakan...

alhamdulillah ada lagi kontributor penulisnya, selain ustadz Pramana Asmadiredja

Anonim mengatakan...

Iya, betul ana alumni FISIP UNDIP.

Anonim mengatakan...

Ini Akh Asih, Adm Negara? Ok..Selamat berkunjung di blog DPC PKS Pesanggrahan.

Posting Komentar

 

© Copyright PKS Pesanggrahan 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.