Berita Terkini :

BERITA TERBARU

Mengurus Rumah Tangga, Pekerjaan Besar dan Mulia

Minggu, 08 Januari 2012

Oleh: Tarwiyah


Wanita kuat merupakan fondasi sebuah keluarga yang solid. Wanitalah yang memelihara dan menjaganya. Dia harus membimbing dan menjaga anak-anak, melayani dan merawat suami, namun dia jugalah yang harus memanjakan dan menghormati dirinya.

Dengan demikian, jika seorang ibu rumah tangga dapat menjamin dan memastikan kekuatannya sendiri, maka dia dapat menjaga soliditas rumah dan keluarganya.

Banyak wanita disaat ditanya pekerjaannya apa? Maka dia akan bangga bila mengatakan jabatan yang tengah disandangnya, karier yang sangat hebat, gaji yang begitu besar melebihi sang suami. Dan seorang ibu rumah tangga hanya akan menunduk malu dan berkata lirih hampir tak terdengar dengan mengatakan pekerjaannya adalah hanyalah mengurus rumah tangga atau ibu rumah tangga (IRT)

Menurut Muhammad Al Ghazali, sakinah adalah hendaknya seorang ibu rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka harus menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Ia juga harus mengetahui kesenangan suami, menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum meminta sesuatu darinya.

Sementara mawaddah, berarti seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.

Bagaimana caranya agar wanita yang menjadi ibu rumah tangga dapat memelihara kekuatan, kemampuan, dan ketangkasannya demi menjaga fungsi rumahnya secara lembut? Ada beberapa hal yang bisa digunakan untuk menjamin efisiensi rumah dan keluarga yang teratur dengan baik. Di antaranya:

Pertama, senyum dan salam tulus untuk keluarga. Sebagai seorang istri yang melayani suaminya dengan baik adalah dia yang mampu menjalankan fungsi rumah secara efisien dalam hal keuangan, dan efektif dalam bekerja. Ibu rumah tangga yang kuat tidak menghabiskan waktu dan uang belanja secara sembrono. Ia dipercaya suami untuk memenej urusan rumah tangga secara akurat dan seimbang.

Karena ia adalah kepala rumah tangga saat suaminya bekerja di luar rumah. Jadi dia bertanggungjawab atas stabilitas keluarga. Sebagai seorang ibu, ia juga melayani anak-anaknya dengan baik, mau memandikan, mengenakan pakaian, dan memberi makan mereka tanpa kesulitan dan keluh-kesah.

Kedua, salat berjamaah dan kelanggengan. Seorang ibu rumah tangga yang membangun fondasi kokoh keluarganya, maka dia akan mengajarkan anak-anaknya salat dan berdoa. Dia akan mengajarkan mereka memohon ampunan dan berkah kepada Allah SWT. Sebagai ibu rumah tangga yang baik adalah seseorang yang memiliki perhatian kepada ‘garapan dakwahnya’ dengan cara bertanya tentang kondisi mereka.

Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak ada pekerjaan besar alias menganggur. Justru menjadi ibu rumah tangga berarti mempersiapkan generasi yang akidahnya lurus, ibadahnya terjaga, akhlaknya baik, dan fisiknya sehat. Apa yang dilakukan tak perlu berkeluh-kesah, berkecil hati, atau malu. Karena semua hal itu bernilai pahala bagi kita.

Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti menganggur. Justru menjadi ibu rumah tangga berarti mempersiapkan generasi yang akidahnya lurus, ibadahnya terjaga, akhlaknya baik, dan fisiknya sehat. Banyak para wanita yang menganggap bahwa menjadi ibu rumah tangga itu tidak bergengsi dan terhina karena tidak bekerja di sebuah institusi kerja resmi yang memberikan upah setiap bulannya.

Padalah sudah jelas, bahwa wanita telah memiliki amanah dan tugas tersendiri yang harus dipikul dan diemban dengan sebaik-baiknya. Dan yang menetapkan amanah serta tugas besar tersebut bukanlah sembarang orang, akan tetapi manusia yang paling mulia, paling berilmu dan paling takut kepada Allah SWT, yaitu Rasulullah SAW sebagai pengemban syariat yang diturunkan oleh Allah SWT dari atas langit yang ketujuh.

Dan semua yang beliau sampaikan dan tetapkan tidaklah bersumber dari hawa nafsunya sendiri, melainkan wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada beliau. Maka berbahagialah menjadi seorang yang mengurus rumah tangga (ibu rumah tangga). Wallahu’alam


:: Redaksi PKS Pesanggrahan menerima tulisan/artikel/cerpen, dengan mencanyumkan nama dan foto (pribadi, keluarga, ilustrasi)

Share this Article on :

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Subhanallah, baik sekali tulisannya. kalau tidak salah ini mba Awi yg dulu kuliah di Budi Luhur bukan yah..tinggal dimana skrg ya

Anonim mengatakan...

assalamualaikum...ukhtiku,jeng tarwiyah....barakalloh ya tulisannya menginspirasi ibu,umu dan calon ibu... .kpn kita reunian ya ?

...wassalam .yenni

Anonim mengatakan...

Askum Wr Wb, mb Awi pa kabar ?.......
sudah besar-besar ya putranya, kapan reuninya mb?


Wassalammualaikum

Anonim mengatakan...

Mb Awi, pa kabar ?.....Kangen ya, kapan ya kita kumpul2 spt dulu lagi, salam ya buat semua

Acun Kardianawati

Posting Komentar

 

© Copyright PKS Pesanggrahan 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.