Berita Terkini :

BERITA TERBARU

Negeri Sebuah Kapal

Rabu, 01 Februari 2012

Ditulis oleh Asma Nadia


Semalam saya bermimpi berada di sebuah kapal paling megah dan mewah yang pernah ada. Terbuat dari berbagai bahan logam pilihan yang tidak hanya sangat kuat, juga lebih berharga dari emas.

Mata saya dengan cepat menangkap orang-orang kelas atas yang dihormati, beserta para pegawai dan pembantu yang menjadi pelayan kapal.

Perjalanan yang harus dilalui kapal megah tersebut tidak selalu mulus. Kadang badai besar menghempas, tetapi sejauh ini tak cukup untuk menahan kapal terus melaju membelah samudera.

Hingga, entah siapa yang memulai, ternyata bahan dasar kapal yang begitu mahal, menggoda orang-orang yang berada di atasnya untuk menggerogoti dindingnya. Mereka mengorek sedikit demi sedikit. Semakin hari, semakin banyak penumpang, yang ingin menambah materi kekayaan mereka.

Petugas keamanan kapal dan beberapa penumpang lain sebenarnya tahu kejahatan terselubung tersebut. Namun tidak mudah mencari bukti, karena dilakukan di dalam kamar masing-masing.

Beberapa kelompok kecil yang resah tidak bisa berbuat apa-apa. Yang lebih berbahaya sebenarnya aktivitas penumpang yang tinggal di pinggir lambung kapal. Siang malam mereka tak berhenti mengorek bagian tersebut. Karena di sisi inilah terkandung logam mulia yang paling tebal. Padahal resikonya jika bagian lambung kapal menipis maka kapal akan bocor, dan bisa tenggelam kapan saja.

Kejadian ini berlangsung selama berpuluh hari, hingga kapal mulai menghadapi ancaman serius. Tetapi berbagai hiburan menarik yang sesekali diseling pertunjukan sulap-sering membuat semua penghuni kapal lupa pada keadaan gawat itu bahkan akhirnya terbiasa. Setiap kali kekhawatiran muncul mereka hanya berharap semoga kapal segera mencapai daratan.

Benarkah tidak ada penegakan hukum di kapal itu? Ternyata ada.

Saya melihat seorang nenek ditangkap dan dipenjara karena mencuri sisa cokelat, milik orang kaya yang tidak dihabiskannya. Kali lain seorang remaja ditahan atas tuduhan mencuri sandal butut. Seorang pelayan ditahan karena dianggap mencuri piring milik majikan. Bahkan seorang ayah dijebloskan ke dalam ruangan yang disulap penjara dadakan, hanya karena mencharger ponselnya di lorong kapal tanpa izin, dan dianggap mencuri listrik.

Semua petugas kapal megah itu tampak sangat sibuk mengadili orang-orang kecil. Hingga akhirnya mereka kehabisan waktu dan tenaga untuk mengurus hal-hal besar. Sementara kapal terus digerogoti, dindingnya makin menipis, dan semakin sering oleng.

Perjalanan mimpi yang tidak biasa itu mengantarkan saya ke sebuah dialog. Ketika seorang penumpang bertanya pada petugas, kenapa tidak ada yang bergerak padahal aktivitas menggerogoti kapal itu membahayakan kehidupan seluruh penghuni kapal.

Dengan sikap dan senyum mekanis, Sang Petugas menjelaskan bahwa prioritasnya adalah penegakan hukum dengan prinsip-prinsip yang didasarkan pada azas praduga tak bersalah, atau dengan bahasa sederhana yang mereka terjemahkan sendiri; perbuatan tindak pidana tidak bisa diusut jika tak ada laporan.

Saya menghela napas, batin tiba-tiba sesak membayangkan nasib kapal hebat ini dan penumpangnya. Memang tidak mudah melaporkan orang-orang kaya yang sudah menyiapkan berbagai siasat demi melindungi libido kerakusan mereka. Bisa-bisa justru kita dituduh melanggar undang-undang warisan kolonial itu, yang berkaitan dengan perihal pencemaran nama baik. Tapi diluar kecemasan saya, beberapa hari ini suara helikopter terdengar semakin sering, membawa pergi beberapa penumpang dan berpeti-peti hasil jarahan mereka.

Saat situasi semakin kritis, saya melayangkan pandangan ke ruang nakhoda. Hampir-hampir menangis karena panik dan tak sanggup membayangkan akhir tragis yang mengancam kendaraan seindah ini.

Pada pundak sang nakhoda terletak satu-satunya harapan. Sebab di tengah lautan ini, hanya sosoknya yang memiliki wewenang untuk mengambil langkah-langkah darurat demi menyelamatkan kapal.

Sementara genangan air perlahan tapi pasti mulai menerobos dinding kapal yang berlubang disana-sini, makin lama makin tinggi. Menimbulkan kepanikan. Suasana berangsur riuh dengan jerit dan tangisan orang-orang yang berlarian.

Saya menanti. Terus menunggu sang nakhoda bertindak. Tetapi sebelum tahu apa yang kemudian dilakukan sang nakhoda, mendadak saya terbangun. Hanya sebuah mimpi, tetapi air di sudut-sudut mata saya, masih tersisa.

Sumber: ASMA NADIA


 
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright PKS Pesanggrahan 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.